Munas Golkar Bertabur Uang
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Munas Golkar Bertabur Uang

Kamis, 01 Okt 2009 14:18 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Munas Golkar Bertabur Uang
Jakarta - Money politics ‘tidak haram’. Malah politik uang itu tampil secara transparan di Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar pekan depan. Harga ‘suara’ sudah
disepakati, dan semua pemilik suara telah diberi panjar. ‘Nilai suara’ itu untuk sementara berada di kisaran Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. Tapi diprediksi bisa melambung hingga Rp 500 juta per suara. Edan !

Akibat ‘hujan duit’ yang digelontorkan para kandidat itu, maka secara alami beberapa calon ‘tak berduit’ gugur dengan sendirinya. Keinginan besar Yuddy Chrisnandi, Ridwan Hisjam, serta Ferry Mursidan Baldan ikut tarung jadi mimpi di siang bolong. Bagai cebol merindukan bulan.

Kini tinggal tiga kandidat yang bersaing ketat rebutan memimpin Golkar. Mereka adalah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Tommy Soeharto. Tiga calon ini diuji
duitnya, strategi memenangi, serta pengaruh pribadi untuk merebut simpati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak salah jika Kota Pekanbaru, Riau tempat Munas Partai Golkar kali ini ibarat padang Kurusetra. Sebuah medan pertempuran. Perang bubat. Laga untuk mempertaruhkan segalanya. Sebab jika kalah akan kehilangan kans ‘memerintah’, kehilangan harga diri, serta duit dalam jumlah banyak. Aroma ‘perang’ itu terbaui hari-hari ini melalui klaim dukungan yang riuh di mana-mana.

Politik transaksional memang tidak terhindari. Hanya repotnya, ‘berdagang’ dengan ‘orang pinter’ itu dilematis. Apalagi yang ‘diperdagangkan’ adalah politik, komoditas yang tidak jelas bentuknya. Maka di tengah taburan uang yang ditebarkan, suara yang sudah dibeli pun belum tentu kepegang. Sebab tidak sedikit ‘daerah’ yang ‘teken kontrak’ di semua kandidat.

Lihat saja skenario yang gagal terealisasi. Ada dua kelompok berencana melokalisasi peserta. Utusan dari daerah seluruh Nusantara dikumpulkan di Jakarta dan berangkat bersama ke Pekanbaru pakai pesawat khusus. Sedang kelompok lainnya mengajak dengan cara yang sama melalui Kota Denpasar, Bali.

Namun langkah itu batal dilakukan. Peserta daerah menolak halus tawaran itu. Dengan politis mereka berdalih ‘pengelompokan vulgar’ selain tidak ciamik juga mencederai demokrasi. Apalagi Partai Golkar telah lama memproklamasikan diri sebagai partai modern yang menjunjung tinggi asas demokratisasi. Ini alasan yang dinilai untuk menaikkan nilai tawar.

Akibat itu, kendati hampir semua peserta telah menerima ‘uang panjar’, peta kekuatan calon pemimpin umum Partai Golkar masih terselimuti kabut tebal. Kabut misteri itu akan terkuak secara evolutif di arena Munas. Penguaknya, apalagi kalau bukan ‘transaksi ulang’, simbiose uang, jabatan, peluang, serta persepsi personal terhadap Partai Golkar ke depan.

Misteri kekuatan ketiga kandidat itu memang menarik untuk dianalisis. Sebab tiap kandidat yang tampil mengantongi plus minus. Kelebihan dan kekurangan. Mulai dari Aburizal Bakrie yang terkuat, Surya Paloh runner up, serta Tommy Soeharto yang kuda hitam.

Ketiga calon ini telah siap dana. Konsep jer basuki mawa bea dalam pakem Jawa mereka sadari sepenuhnya. Jauh-jauh hari mereka ‘sisihkan’ soal ini, untuk melakukan ‘deal-deal’ di daerah. ‘Deal’ itu yang membuat pengurus Partai Golkar di daerah ‘panen’. Panen setelah terkena puso, paceklik berat, habis dedel-duwel kalah dalam Pemilihan Legislatif.

Panorama mendekati Munas telah mempertegas, bahwa ‘orang Partai Golkar’ itu memang ‘mata duitan’. Namun karena mereka adalah politisi ‘pinter’ yang cerdas sekaligus suka ‘minteri’, maka saya yakin mereka ber-munas tidak sekadar cari duit. Idealisasi untuk partai ini ke depan akan tetap di-nomor-satu-kan. Dengan begitu ‘penabur’ uang terbanyak tidak otomatis tampil sebagai pemenang. Ini yang melatari asumsi saya, Aburizal Bakrie bakal unggul dalam Munas kali ini.

Benarkah begitu? Kita lihat sama-sama seberapa hebat atau picik intelejensia ‘orang Golkar’ saat berenang di ‘kolam uang’.

* Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta (iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads