Akibatnya warga yang tergabung dalam "Laskar Bonek Korban Lumpur" nekat menggelar aksi dengan membangun tenda keprihatinan di depan gerbang KNV, Sidoarjo.
Aksi warga ini sudah berlangsung tiga hari. Dan mereka mengancam akan tinggal di tenda hingga PT Minarak Lapindo Jaya memenuhi tuntutannya.
"Sampai tuntutan dipenuhi kita tidak pindah. Kita tetap di tenda ini," kata Chamin, Koordinator Laskar Bonek Korban Lumpur saat ditemui detiksurabaya.com, Kamis (18/12/2008).
Ada 9 tuntutan yang diajukan korban lumpur tersebut. Diantaranya adalah proses pembangunan perumahan segera diselesaikan, status SHGB/sertifikat, listrik, akta jual beli bagi yang sudah menerima kunci, uang kembalian dicairkan.
"Tuntutan kita ini harus dijawab Minarak Lapindo dan ditandatangani oleh Bupati Sidoarjo," tegas Chamim.
Menurut dia, korban lumpur Lapindo yang bersedia menerima program restlement dan cash restlement ada sekitar 4000an jiwa. Dan rumah yang sudah dibangun di KNV saat ini baru 337 unit. "218 unit sudah serah terima dan 119 kosong," katanya.
Korban lumpur yang pro restlement ini akhirnya resah setelah Bakrie dililit kesulitan keuangan termasuk dengan mandegnya proyek pembangunan rumah yang disediakan tersebut.
"Kita sudah bosan dengan janji-janji. Kami ingin kembali hidup normal," kata Chamim.
Aksi berkemah korban lumpur ini cukup menarik perhatian. Sebab di depan perumahan KNV yang gerbangnya didesain mewah itu dipasangi spanduk-spanduk yang bernada kekecewaan kepada Bakrie.
Salah satunya berbunyi: "Kau yang berjanji Kau yang Ingkari. Sungguh terlalu kau Bakrie! Pada Kami Korban Lumpur Lapindo".
(gik/gik)











































