Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyalahkan imigrasi sebagai pemicu demo rusuh di Prancis. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pihaknya akan mengungkapkan target-target dan senjata baru, saat konflik melawan AS berlarut-larut.
Trump memperingatkan bahwa Paris, ibu kota Prancis, akan menjadi "kota Muslim", jika Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak menutup perbatasan.
Sementara IRGC menyinggung keberadaan kabel-kabel internet bawah laut utama yang melintasi Selat Hormuz, saat membahas soal target-target baru Iran. IRGC mengklaim bahwa seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati jalur perairan strategis tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (20/10/2026):
- Geger Diisukan Meninggal, Kim Jong Un Muncul di Pameran Fashion
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un diisukan meninggal dunia akibat pendarahan otak. Kim Jong Un kini muncul ke publik dengan mendatangi pameran fashion.
Dilansir New York Post dan Korea Herald, Selasa (20/10/2026), Kim Jong Un tampak memeriksa sepatu dan pakaian wanita saat berkunjung ke pameran tersebut pada hari Senin. Kim Jong Un muncul melalui foto yang diunggah media Korut, KCNA, usai rumor liar menyebar di media sosial yang mengklaim bahwa sang diktator telah meninggal dunia karena pendarahan otak.
Berdasarkan foto-foto yang dirilis, Kim didampingi putrinya, Ju-ae, dan istrinya, Ri Sol-ju dalam kunjungan itu.
- Trump Bilang Paris Akan Jadi Kota Muslim Jika Prancis Tak Tutup Perbatasan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyalahkan imigrasi sebagai pemicu unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan di Prancis beberapa waktu terakhir. Trump memperingatkan bahwa Paris, ibu kota Prancis, akan menjadi "kota Muslim", jika Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak menutup perbatasan.
"Apa yang terjadi di Prancis ada kaitannya dengan imigrasi, bukan soal sekolah atau hal lainnya," ujar Trump saat berbicara kepada wartawan di Washington DC, seperti dilansir AFP, Selasa (20/10/2026).
Pernyataan Trump ini mengulangi apa yang dia sampaikan sehari sebelumnya.
- Iran Bahas Target Baru, Singgung 7 Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pihaknya akan mengungkapkan target-target dan senjata baru, saat konflik melawan Amerika Serikat (AS) berlarut-larut. IRGC menyinggung keberadaan kabel-kabel internet bawah laut utama yang melintasi Selat Hormuz.
"Tujuh kabel internet utama membentang di bawah Selat Hormuz," ujar juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (20/10/2026).
Mohebbi mengklaim bahwa seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati jalur perairan strategis tersebut. Dia tidak secara jelas mengatakan bahwa IRGC akan menargetkan kabel internet bawah laut tersebut.
- Bertambah, Total 10 Perusahaan Kena Peringatan Singapura gegara Karhutla di RI
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) mengeluarkan pemberitahuan kepada tiga perusahaan lagi di Indonesia terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan yang memicu kabut asap di Singapura. Sehingga, sudah ada 10 perusahaan yang disasar berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act/THPA) Singapura.
Dilansir Channel News Asia, Selasa (20/10/2026), NEA menyatakan terdapat indikasi asap dari kebakaran di lahan konsesi yang dikuasai oleh ketiga perusahaan tersebut mungkin telah mencapai Singapura. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Buana Megatama Jaya, PT Mananjung Hayak, dan PT Baratama Putra Perkasa.
Langkah terbaru ini diambil tiga hari setelah NEA mengirimkan pemberitahuan serupa kepada tujuh perusahaan Indonesia lainnya terkait kebakaran di Sumatra. Berdasarkan pemberitahuan tersebut, ketiga perusahaan diwajibkan untuk mengerahkan personel pemadam kebakaran guna memadamkan api atau mencegah penyebaran api di lahan yang mereka miliki atau kuasai.
- Arab Saudi Eksekusi Mati Pria-Wanita Bangladesh Dituduh Asusila di Masjid
Otoritas Arab Saudi telah mengeksekusi mati dua warga negara Bangladesh yang dituduh melakukan tindakan asusila di dalam sebuah masjid. Eksekusi mati itu dilaksanakan Riyadh tanpa memberitahu otoritas Dhaka, yang kini menuntut penjelasan.
Kementerian Dalam Negeri Saudi, seperti dilansir BBC dan Middle East Eye, Selasa (20/10/2026), mengumumkan eksekusi mati terhadap seorang pria dan seorang wanita berkewarganegaraan Bangladesh pada Rabu (14/10) pekan lalu, setelah keduanya dinyatakan bersalah melakukan "tindakan asusila" di dalam sebuah masjid setempat. Tidak dijelaskan lebih lanjut soal "tindakan asusila" yang dimaksud.
Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri Saudi menyebut kedua warga negara Bangladesh itu dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati berdasarkan ketentuan "tazir", yang dalam hukum Islam merujuk pada hukuman yang penentuannya diserahkan kepada kebijakan hakim.
Tonton juga video "Pidato Kim Jong Un di HUT ke-78 Korut: Bahas Operasi Militer LN"










































