Unjuk rasa memprotes meningkatnya biaya hidup di Prancis, meluas ke berbagai negara Eropa, seperti Italia, Belgia, Portugal, dan Albania. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan kesalahan perhitungan terhadap Iran.
Meski tidak sebesar unjuk rasa yang menyelimuti Prancis, aksi protes di negara-negara Eropa lainnya itu sempat diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi.
Sementara itu, komandan senior IRGC Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, mengatakan Teheran mempersiapkan "father of Iranian missiles" atau "bapaknya rudal Iran", setelah AS dilaporkan mempertimbangkan penggunaan bom non-nuklir terberatnya, yang disebut "mother of all bombs" atau "ibu dari segala bom".
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (19/10/2026):
- Demo Protes Biaya Hidup di Prancis Meluas ke Italia, Belgia hingga Portugal
Unjuk rasa memprotes meningkatnya biaya hidup di Prancis, meluas ke berbagai negara Eropa, seperti Italia, Belgia, Portugal, dan Albania. Meski tidak sebesar unjuk rasa yang menyelimuti Prancis, aksi protes di negara-negara Eropa lainnya itu sempat diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi.
Aksi protes di Italia, Belgia, dan Portugal, seperti dilansir Reuters, Senin (19/10/2026), didorong oleh tingginya biaya hidup yang membuat warga turun ke jalanan. Sedangkan unjuk rasa di Albania memprotes dugaan korupsi pemerintah, kurangnya lapangan kerja, dan standar pendidikan yang buruk.
Di Prancis, unjuk rasa terjadi di beberapa kota pada Sabtu (17/10) waktu setempat, dengan para demonstran menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan kualitas layanan publik. Aksi protes di beberapa wilayah berubah menjadi kekacauan, dengan kelompok-kelompok garis keras merusak bangunan publik, menjarah butik mewah dan supermarket, dan menyerang kendaraan serta petugas kepolisian.
- Iran Tuduh Netanyahu Dorong AS ke Perang Lagi demi Hindari Bui
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menuduh Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berupaya menyeret Amerika Serikat (AS) ke dalam perang lagi melawan Teheran, demi menghindari hukuman penjara.
Araghchi memperingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan militer baru.
"Netanyahu mendorong Amerika ke dalam perang lainnya agar dia tidak masuk penjara," cetus Araghchi dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (19/10/2026).
(nvc/nvc)