Keterlaluan Candaan Trump Bawa-bawa Nama 'Mohammad'

Keterlaluan Candaan Trump Bawa-bawa Nama 'Mohammad'

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 18 Okt 2026 06:31 WIB
U.S. President Donald Trump reacts during an event to sign executive orders related to birthright citizenship and the polysilicon industry, in the Oval Office at the White House in Washington, D.C., U.S., August 6, 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Jakarta -

Kelakuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, seakan tak ada habisnya. Kali ini dia kembali menjadi sorotan usai melontarkan lelucon soal popularitas nama 'Mohammad'.

Dilansir Reuters, Sabtu (17/10/2026), candaan itu dilontarkan saat dirinya mengejek kepresidenan Iran. Hal itu dia sampaikan dalam pidatonya di hadapan para pendukungnya pada kampanye pemilu sela.

"Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad,'" kata Trump.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peluangnya benar sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Trump menyampaikan komentar tersebut saat membahas Iran dalam sebuah rapat di Bandara Regional Dalton di Georgia, tempat ia berkampanye untuk para calon politisi Partai Republik menjelang pemilihan umum sela pada 3 November.

Trump kemudian berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka menginginkan jabatan tersebut. Namun para pendukungnya tak menanggapi lelucon Trump.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden,"

Para pembela hak asasi manusia (HAM) dan kelompok advokasi Muslim telah berulang kali mengkritik Trump atas retorikanya yang dinilai mengejek umat Islam, imigran, serta minoritas etnis.

Ia semakin meningkatkan retorika semacam itu selama musim kampanye pemilu sela, terutama terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim, termasuk calon Senat AS dari Partai Demokrat yang beragama Islam, Abdul El-Sayed, serta Anggota DPR Ilhan Omar, seorang politisi Demokrat asal Minnesota yang datang ke AS sebagai pengungsi Somalia.

Laporan tahunan dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) atau Dewan Hubungan Islam Amerika yang dirilis awal tahun ini mengaitkan meningkatnya Islamofobia di AS. Salah satunya akibat tindakan tegas Trump terhadap imigrasi dan aksi protes pro-Palestina pada masa jabatan keduanya.


Simak juga Video: Kala Trump Sindir "Gay for Palestine" di Rapat Umum Ohio

(wnv/fas)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini