Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang diklaim mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat (AS). Pesawat kargo Ethiopian Airlines dari Addis Ababa terpaksa berbalik arah di tengah penerbangan usai ditolak mendarat oleh Israel.
Rudal ICBM itu dipamerkan saat Kim Jong Un menghadiri pembukaan museum industri pertahanan yang baru, yang bernama Museum Revolusi Pertahanan, pada Minggu (11/10) waktu setempat. Dalam kunjungannya, Kim Jong Un didampingi istri, Ri Sol Ju, dan putrinya, Ju Ae.
Sementara itu, penolakan Israel untuk mengizinkan Ethiopian Airlines mendarat di wilayahnya didasari alasan pilot pesawat itu merupakan warga negara Indonesia (WNI), yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (13/10/2026):
- Kim Jong Un Pamer Rudal Diklaim Bisa Sampai AS
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang diklaim mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat (AS).
Momen itu, seperti dilansir Reuters, Selasa (13/10/2026), terjadi saat Kim Jong Un menghadiri pembukaan museum industri pertahanan yang baru, yang bernama Museum Revolusi Pertahanan, pada Minggu (11/10) waktu setempat. Dalam kunjungannya, Kim Jong Un didampingi istri, Ri Sol Ju, dan putrinya, Ju Ae.
Kantor berita Korean Central News Agency (KCNA) merilis foto-foto yang menunjukkan bahwa museum tersebut memamerkan berbagai persenjataan yang dikembangkan di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, mulai dari drone hingga rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20.
- Houthi Bakal Balas AS Lebih Perih Jika Terlibat Konflik Yaman
Seorang pejabat senior kelompok Houthi memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan adanya "respons yang cepat dan mematikan" jika negara itu terlibat dalam konflik Yaman. Peringatan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan AS bergabung dalam operasi Arab Saudi memerangi Houthi.
Otoritas Riyadh dilaporkan telah meminta bantuan Washington untuk menghadapi kelompok yang didukung Iran tersebut.
"Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan berlama-lama mempertimbangkan keputusan untuk membalas; sebaliknya, akan ada respons yang cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS dan seluruh kepentingannya di kawasan ini," tegas anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Mukhaiti, dalam wawancara dengan AFP, seperti dilansir AFP, Selasa (13/10/2026).
- Arab Saudi Ogah Jika Israel Bantu Lawan Houthi
Arab Saudi menolak tawaran yang diajukan Israel untuk bergabung dalam pertempuran melawan kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman. Beberapa waktu terakhir, Saudi terlibat operasi militer yang diluncurkan pemerintah Yaman terhadap Houthi untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok itu.
Penolakan ini, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (13/10/2026), dilaporkan oleh surat kabar terkemuka Israel, Haaretz, yang mengutip sumber diplomatik anonim, dalam laporannya pada Senin (12/10) waktu setempat.
Dilaporkan bahwa ada upaya Israel untuk mendapatkan persetujuan Saudi, melalui mediasi Amerika Serikat (AS), untuk bergabung dalam operasi militer melawan Houthi.
- Pesawat Ditolak Mendarat di Israel gegara Pilotnya WNI
Pesawat kargo Ethiopian Airlines dari Addis Ababa terpaksa berbalik arah di tengah penerbangan usai ditolak mendarat oleh Israel. Penolakan dilakukan karena pilot pesawat itu merupakan warga negara Indonesia (WNI).
Dilansir The Times of Israel dan TRT World, Selasa (13/10/2026), peristiwa itu terjadi pada malam antara hari Minggu dan Senin. Israel menolak pilot WNI tersebut karena Israel tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia.
Insiden ini terjadi kurang dari dua minggu setelah serangan di dalam penerbangan flydubai dari Dubai ke Tel Aviv di mana seorang pilot asal Oman menikam kopilotnya dalam upaya menabrakkan pesawat ke Bandara Ben Gurion. Aksi itu digagalkan oleh intervensi beberapa penumpang.
- Trump Tak Yakin China dan Rusia Bantu Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa dirinya tidak meyakini jika China dan Rusia memberikan bantuan kepada Iran. Trump menilai Beijing dan Moskow akan menanggung risiko kerugian yang besar jika mereka memfasilitasi Teheran.
Trump, seperti dilansir Reuters, Selasa (13/10/2026), mengatakan bahwa dirinya melihat banyak komentar dari para pengkritik dan lawan politiknya, yang menyebutkan bahwa China dan Rusia sedang membantu Iran, yang terlibat perang melawan AS sejak akhir Februari lalu.
"Saya melihat begitu banyak komentar dari kaum Kiri Radikal yang bodoh dan tidak waras soal China dan Rusia membantu Republik Islam Iran yang "luar biasa" itu," tulis Trump dalam pernyataan via akun media sosial Truth Social miliknya.
Baca juga: Trump Tak Yakin China dan Rusia Bantu Iran |










































