Usai Serangan di Riyadh, Operasi 'Fajar Yaman' Gempur Houthi

Usai Serangan di Riyadh, Operasi 'Fajar Yaman' Gempur Houthi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 11 Okt 2026 10:56 WIB
Saudi Kembali Diserang Houthi, Suriah Pertimbangkan Bantuan Militer
Foto: Ilustrasi serangan Houthi (DW News)
Jakarta -

Militer pemerintah Yaman menyatakan telah menewaskan ratusan petempur Houthi dalam operasi terarah selama 24 jam terakhir. Yaman terus melakukan serangan balik.

Dilansir Al-Jazeera, Minggu (11/10/2026) juru bicara militer Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili mengatakan setidaknya 1.150 anggota Houthi tewas dalam hampir 2.000. Operasi ini bagian dari operasi "Fajar Yaman".

Ia mengatakan angkatan darat telah menghancurkan gudang amunisi Houthi serta sedikitnya 180 kendaraan tempur, angkut, dan logistik yang dioperasikan oleh Houthi, seraya menambahkan bahwa pasukan darat "terus melanjutkan serangan mereka".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Al Jazeera belum dapat memverifikasi informasi tersebut secara independen.

Sebelumnya, sebuah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada hari Sabtu (10/10) menewaskan dan melukai sejumlah orang serta menyebabkan pembatalan penerbangan.

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan bergabung dalam serangan terhadap Houthi setelah peristiwa tersebut, Presiden Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa ia "akan segera mengambil keputusan".

Wartawan Al Jazeera, Yousef Mawry, yang melaporkan dari Yaman pada hari Sabtu (10/10), mengatakan bahwa pihak Houthi belum mengklaim tanggung jawab atas serangan terbaru itu.

Namun, kelompok yang didukung Iran tersebut telah memperingatkan perusahaan penerbangan untuk menghindari wilayah udara Arab Saudi, dengan menyatakan bahwa pesawat apa pun yang beroperasi di sana-kecuali di atas kota suci Mekkah dan Madinah-akan menjadi sasaran.

Mawry mengatakan Houthi sedang bersiap menghadapi perang di berbagai front, termasuk melawan keterlibatan pihak internasional, seperti Pakistan.


"Kelompok Houthi menyatakan bahwa jika Pakistan terlibat dalam aktivitas militer apa pun yang menentang mereka demi kepentingan Arab Saudi, maka Pakistan akan diperlakukan sama seperti cara mereka menghadapi pihak Saudi saat ini," ujar Mawry.

Terdapat rencana untuk meluncurkan rudal balistik ke arah Pakistan dan menyerang kapal-kapal berbendera Pakistan di Laut Merah dan Laut Arab, tambahnya.

"Pertempuran meluas ke berbagai front, dan situasinya akan terus meningkat eskalasinya," kata Baraa Shiban, seorang rekan peneliti keamanan internasional dan pakar Yaman di lembaga pemikir Royal United Services Institute yang berbasis di London, kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa kekerasan tersebut tidak akan "mereda" dalam waktu dekat.

"Tidak ada upaya mediasi yang berlangsung saat ini-tidak ada mediator regional maupun lokal yang mampu meredakan situasi," ujarnya.

Pasukan Yaman yang didukung Saudi sedang bergerak maju melawan kelompok Houthi dalam upaya merebut kembali wilayah di sekitar Selat Bab al-Mandeb, sebuah jalur perdagangan vital bagi pelayaran global yang keluar-masuk Laut Merah.

Pertempuran kini berkecamuk di sekitar kota strategis Mocha dan Dhubab di Yaman selatan; kedua kota ini terletak di pesisir Laut Merah dan memiliki posisi strategis untuk menguasai Bab al-Mandeb.

Kelompok Houthi, yang telah menguasai Sanaa dan sebagian wilayah barat laut Yaman sejak 2014, merebut kawasan tersebut pada bulan September dan secara efektif mengambil alih kendali atas selat itu, meskipun kedua belah pihak sama-sama mengklaim kendali atas jalur pelayaran tersebut.

(rdp/knv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini