Serangan Houthi ke Arab Saudi Makin Menjadi-jadi

Serangan Houthi ke Arab Saudi Makin Menjadi-jadi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 10 Okt 2026 06:03 WIB
Smoke and flames rise from King Khalid Airport, after Yemens Iran-backed Houthis said they attacked the airport, in Riyadh, Saudi Arabia, October 8, 2026, in this screengrab obtained from a social media video. Social Media/via REUTERS  THIS IMAGE HAS
Foto: Social Media via REUTERS/Social Media
Jakarta -

Hubungan Arab Saudi dan kelompok Houthi, yang didukung Iran terus memanas. Serangan Houthi kepada Saudi semakin menjadi hingga sasar bandara dan jatuh korban jiwa.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengumumkan bahwa sedikitnya tiga warga negara Saudi tewas akibat dua serangan yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Beberapa orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi, yang didukung Iran tersebut.

Otoritas Penerbangan Sipil Saudi dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir Reuters dan AFP, Jumat (9/10/2026), mengatakan bahwa serangan pertama menargetkan fasilitas bandara, kemudian serangan kedua menghantam sebuah pesawat komersial milik maskapai penerbangan nasional Saudia Airlines.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Serangan-serangan itu mengakibatkan gugurnya tiga warga negara Saudi," demikian pernyataan Otoritas Penerbangan Sipil Saudi.

ADVERTISEMENT

Pernyataan itu juga menyebut beberapa orang mengalami luka-luka dengan kondisi yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Serangan pada Kamis (8/10) waktu setempat itu juga menyebabkan kerusakan materiil.

Dalam pernyataan terpisah, maskapai Saudia Airlines mengumumkan bahwa salah satu pilot mereka tewas akibat serangan di Bandara Internasional King Khalid. Mereka juga mengakui bahwa salah satu pesawat mereka rusak akibat serangan yang sama.

"Dengan kesedihan mendalam, Saudia mengumumkan meninggalkan Kapten Hamoud Ali Alkalthami," demikian pernyataan maskapai Saudia Airlines.

Smoke rises from a fire at the Aramco refinery south of Riyadh, Saudi Arabia, October 3, 2026. Picture taken with a mobile phone. REUTERS/StringerSmoke rises from a fire at the Aramco refinery south of Riyadh, Saudi Arabia, October 3, 2026. Picture taken with a mobile phone. REUTERS/Stringer Foto: REUTERS/Stringer

Ditambahkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Saudi bahwa operasional bandara telah dilanjutkan kembali dan lalu lintas udara kembali normal.

Otoritas Penerbangan Sipil Saudi tidak menyebutkan secara langsung soal sumber serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid.

Namun Houthi sebelumnya menyatakan bahwa pasukannya telah menyerang bandara di Riyadh tersebut dengan menggunakan dua rudal jelajah. Houthi juga mengklaim telah menyerang sebuah bandara lainnya di kota Najran, barat daya Saudi. Klaim itu belum dikonfirmasi oleh otoritas Riyadh.

Tidak hanya itu, kelompok yang bermarkas di Yaman itu juga mengklaim telah menyerang pangkalan udara Saudi di area Khamis Mushait menggunakan rudal balistik.

Dalam pernyataannya, Houthi mengatakan bahwa mereka menargetkan Saudi untuk merespons dukungan yang diberikan Riyadh terhadap pasukan pemerintah Yaman saat pertempuran kembali berkobar beberapa waktu terakhir.

Pesawat-TK Rusak Parah

Dilansir AFP, Jumat (9/10/2026), Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompok yang didukung Iran tersebut telah meluncurkan dua rudal ke bandara Riyadh. Mereka juga meluncurkan satu rudal ke bandara di Najran dan satu lagi ke pangkalan udara di Khamis Mushait.

Sementara itu, dua sumber mengatakan satu pesawat mengalami kerusakan parah di bandara Riyadh. Sumber itu menyampaikan beberapa jam setelah terdengar sejumlah ledakan di ibu kota Saudi.

Sumber pertama mengatakan setidaknya satu pesawat mengalami kerusakan sangat parah, sementara sumber kedua menyebutkan ada tiga pesawat yang terkena serangan.

Badan pertahanan sipil Arab Saudi mengatakan bahwa sebuah taman kanak-kanak (TK) dan kompleks medis di Riyadh rusak akibat pecahan rudal yang dicegat. Laporan ini disampaikan setelah ledakan mengguncang ibu kota Saudi.

"Fragmen rudal jatuh di Riyadh setelah sebuah rudal balistik dicegat, menyebabkan kerusakan material pada kompleks taman kanak-kanak dan klinik medis," demikian pernyataan yang diposting Badan Pertahanan Sipil Saudi di X, seperti dilansir AFP, Kamis (8/10/2026).

Badan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik apakah ada korban jiwa atau tidak.

Wanti-wanti Houthi Pakistan dan Turki Tak Ikut Campur

Kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman, memperingatkan Pakistan dan Turki untuk tidak terlibat dalam operasi militer yang dipimpin Arab Saudi dalam melawan kelompok yang didukung Iran tersebut.

Peringatan tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (9/10/2026), disampaikan oleh Hizam Al-Asad, yang merupakan anggota biro politik kelompok Houthi, saat berbicara kepada kantor berita Rusia, RIA Novosti.

"Kami berharap pemerintah Pakistan dan Turki menahan diri untuk tidak berpartisipasi dalam agresi oleh musuh Saudi dan pengepungan terhadap negara kami, yang telah berlangsung selama lebih dari 11 tahun dan mengakibatkan puluhan ribu kematian," ucap Al-Asad menegaskan.

Houthi menyampaikan peringatan ini setelah pada Senin (5/10), berdasarkan Pakta Pertahanan Mekkah, Turki dan Pakistan memutuskan untuk melangkah menuju implementasi praktis dari komitmen pertahanan bersama mereka, dan memastikan pengerahan cepat pasukan serta aset-aset militer ke Saudi.

Pakta Pertahanan Mekkah, yang secara resmi disebut Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah, merupakan perjanjian keamanan kolektif trilateral yang ditandatangani oleh Saudi, Pakistan, dan Turki pada 7 Agustus 2026.

Pertempuran di Yaman yang kembali berkobar sejak Juli lalu, semakin memanas setelah pasukan pemerintah meluncurkan operasi militer "Fajar Yaman" yang bertujuan merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Koalisi pimpinan Saudi memberikan bantuan untuk pasukan pemerintah Yaman melalui serangan-serangan udara terhadap target-target Houthi di negara tersebut.

Operasi militer terbaru di Yaman itu menandai titik balik berbahaya yang mengancam upaya deeskalasi yang rapuh, dan dapat menyeret kawasan tersebut ke dalam situasi dengan dampak yang tak terduga.

Seiring langkah Pakta Pertahanan Mekkah menuju implementasi praktis untuk memperkuat pertahanan Saudi dengan dukungan Pakistan dan Turki, pihak Houthi segera merespons dengan meningkatkan serangan rudal dan drone yang menargetkan jauh ke dalam wilayah Saudi, juga menyasar infrastruktur vital kerajaan tersebut.

Halaman 3 dari 3
(wnv/wnv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini