Amerika Serikat (AS) akan menyiarkan langsung eksekusi mati dengan regu tembak terhadap mantan tentara AS, Nidal Hasan, yang menewaskan 13 orang di Fort Hood. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela AS digelar pada November mendatang.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth mengatakan bahwa eksekusi mati terhadap Hasan akan dilaksanakan di hadapan "publik".
Sementara itu, Trump mengatakan bahwa "kita tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu sela yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November". Dia menyebut bahwa AS saat ini sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Jumat (9/10/2026):
- AS Akan Siarkan Langsung Eksekusi Mati Eks Tentara Pembunuh 13 Orang
Amerika Serikat (AS) akan menyiarkan langsung, via livestreaming, eksekusi mati dengan regu tembak terhadap seorang mantan tentara AS, Nidal Hasan, terpidana penembakan massal yang menewaskan 13 orang di pangkalan militer Fort Hood.
Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth, seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2026), mengatakan bahwa eksekusi mati terhadap Hasan akan dilaksanakan di hadapan "publik".
Hasan, mantan psikiater Angkatan Darat AS, melakukan penembakan massal yang menewaskan 13 orang di Fort Hood pada tahun 2009. Eksekusi mati terhadap Hasan akan menjadi yang pertama dilakukan oleh militer AS sejak tahun 1961 silam, sekaligus yang pertama melibatkan regu tembak sejak Perang Dunia II.
- Trump Bilang Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela AS digelar pada November mendatang. Trump menyebut bahwa AS saat ini sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran.
"Kami sedang melakukan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran," kata Trump dalam pernyataan via akun media sosial Truth Social miliknya, seperti dilansir AFP dan Reuters, Jumat (9/10/2026).
"Saya ingin memperjelas kepada semua pihak bahwa, meskipun kondisi Iran sangat buruk, baik secara ekonomi maupun militer, dan meskipun blokade akan tetap diberlakukan sepenuhnya... kita tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu sela yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat pada 3 November," tegasnya.
- Sekolah-sekolah di Ibu Kota Malaysia Diliburkan Akibat Kabut Asap
Malaysia meliburkan sekolah-sekolah di Kuala Lumpur dan beberapa wilayah lainnya pada Jumat (9/10) waktu setempat. Langkah ini diambil saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia menyebabkan kualitas udara memburuk hingga ke level yang tidak sehat.
"Saya telah menginstruksikan seluruh dinas pendidikan negara bagian dan kantor pendidikan tingkat distrik untuk terus memantau situasi kabut asap, dan mengambil tindakan segera jika kondisi mengharuskannya," kata Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2026).
"Saya juga memahami bahwa keputusan apa pun untuk menutup sekolah-sekolah akan berdampak pada aktivitas sehari-hari para orang tua," ucapnya, sembari merinci daftar sekolah yang ditutup sepenuhnya atau sebagian di lima negara bagian dan dua wilayah federal Malaysia.
- Iran Tolak Setop Pengayaan Uranium, Ogah Serahkan Pasokan Uranium
Iran menegaskan tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium ataupun menyerahkan pasokan uranium yang telah diperkaya. Penegasan ini disampaikan setelah Amerika Serikat (AS) mencetuskan agar Teheran melakukan pengurangan "berarti" terhadap kapasitas pengayaan uraniumnya.
Penegasan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Jumat (9/10/2026), disampaikan oleh kepala badan nuklir negara tersebut, Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, saat berbicara kepada wartawan pada Kamis (8/10) waktu setempat.
Esmali menepis ancaman baru AS terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai "bukanlah hal yang baru". Dia juga menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan "bagian tak terpisahkan" dari proses nuklir.
- Navi Pillay, Hakim ICJ Asal Afsel Raih Nobel Perdamaian 2026
Penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2026 ini dianugerahkan kepada Navi Pillay, seorang hakim Mahkamah Internasional (ICJ) asal Afrika Selatan (Afsel).
Pillay memiliki rekam jejak terkemuka dengan pernah memimpin pengadilan genosida Rwanda dan tahun lalu, memimpin komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuduh Israel melakukan genosida di Jalur Gaza. Dia juga menjadi hakim dalam kasus tuduhan genosida di Myanmar.
Ketua Komite Nobel Norwegia di Oslo, Jorgen Watne Frydnes, seperti dilansir AFP, Jumat (9/10/2026), menyebut sosok Pillay telah berperan "sangat penting dalam memastikan bahwa kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida diadili".
Simak juga Video 'Janji Trump Gak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela 3 November!':










































