Sistem pertahanan udara Arab Saudi berhasil mencegat sedikitnya dua drone yang diyakini diluncurkan oleh kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman. Kedua drone itu dihancurkan di udara saat terdeteksi mengudara ke arah Riyadh, ibu kota Saudi, pada Sabtu (26/9) dini hari waktu setempat.
"Sistem pertahanan udara telah mencegat dan menghancurkan dua drone yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah wilayah Riyadh," kata juru bicara pasukan koalisi Saudi yang memerangi Houthi, Turki al-Maliki, dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (26/9/2026).
Al-Maliki menambahkan bahwa pasukan koalisi Saudi terus memantau ancaman rudal dan drone yang ditujukan ke wilayah kerajaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konflik Yaman yang mereda selama bertahun-tahun usai gencatan senjata disepakati, kembali berkobar sejak Juli lalu. Pasukan Houthi kembali bertempur sengit dengan pasukan pemerintah Yaman, yang didukung oleh Saudi.
Pertempuran terbaru itu turut menyeret Riyadh ke dalam konflik. Houthi telah mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi dan menargetkan kapal-kapal tanker minyak Saudi dalam rentetan serangan di Laut Merah.
Pasukan Houthi juga melancarkan serangkaian serangan terhadap wilayah Saudi beberapa waktu terakhir.
Tidak hanya itu, Houthi kini juga menguasai seluruh wilayah pesisir strategis di Yaman, di tepi Laut Merah, tepatnya yang menghadap ke Selat Bab al-Mandeb, setelah berhasil merebutnya dari pasukan pemerintah Yaman.
Keberhasilan ini memperkuat cengkeraman Houthi dan sekutunya, Iran, atas dua jalur perairan yang menjadi tumpuan kawasan Teluk, termasuk Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia, untuk mendistribusikan minyak mereka.
Dalam pernyataan terpisah, Al-Maliki mengatakan bahwa pertahanan udara Saudi juga mencegat dan menghancurkan sebuah rudal Houthi yang menargetkan area Khamis Mushait, sebuah kota di barat daya Saudi yang menjadi lokasi sebuah pangkalan udara.
Sementara itu, salah satu anggota Biro Politik Houthi, Hezam Alasad, menegaskan bahwa: "Terlepas dari kekuatan, cakupan, dan dampak operasi tersebut, angkatan bersenjata kami memandangnya hanya sebagai latihan berskala kecil untuk eskalasi berskala penuh."










































