Seorang jenderal militer senior Iran memperingatkan bahwa perang bisa meluas hingga ke Samudra Hindia, jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa AS yang harus memilih apakah akan mengakhiri perang atau tidak.
Disebutkan jenderal militer senior Iran itu bahwa pasukan Teheran telah bersiap untuk berbagai skenario, termasuk skenario terburuk, jika kembali diserang oleh Washington.
Sementara itu, Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran jelas tidak ingin terus berperang. Dia meminta Presiden AS Donald Trump untuk memilih secara tegas: "Apakah ingin mengakhirinya atau tidak?"
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Jumat (25/9/2026):
- Mamdani Kecam Netanyahu Lagi yang Coba Tutupi Genosida Palestina
Wali Kota New York Zohran Mamdani menanggapi serangan verbal terbaru Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, yang disampaikan dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Netanyahu menuduh Mamdani melakukan antisemitisme dan mendistorsi fakta terkait Israel.
Mamdani dalam tanggapannya, seperti dilansir CNN dan Fox News, Jumat (25/9/2026), balik menuding Netanyahu memanfaatkan pidato di forum pemimpin dunia untuk menutupi genosida yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina.
"Sebagaimana yang telah dilakukannya berulang kali, Perdana Menteri Netanyahu memanfaatkan pidatonya untuk mengulangi kebohongan-kebohongan tidak berdasar yang dimaksudkan untuk membersihkan tindakan genosida yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina," ucap Mamdani dalam pernyataannya.
- Kolombia Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran, Ada Apa?
Kolombia mengumumkan bahwa mereka telah secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Apa alasannya?
Kementerian Luar Negeri Kolombia, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (25/9/2026), mengatakan bahwa keputusan tersebut telah mulai berlaku pada 19 September lalu.
Dijelaskan oleh Kementerian Luar Negeri Kolombia bahwa langkah tersebut didasari alasan "kekhawatiran terhadap keamanan nasional dan keamanan kawasan", juga dugaan keterkaitan dengan kelompok teroris dan narkoteroris internasional, serta pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
(nvc/nvc)