Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia Jika AS Menyerang Lagi

Iran Ancam Perluas Perang ke Samudra Hindia Jika AS Menyerang Lagi

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 25 Sep 2026 13:45 WIB
Garda Revolusi Iran menembakkan roket dari sejumlah kapal dalam latihan militer di perairan Teluk (dok. AFP)
Garda Revolusi Iran menembakkan roket dari sejumlah kapal dalam latihan militer di perairan Teluk (dok. AFP)
Teheran -

Seorang jenderal militer senior Iran memperingatkan bahwa perang bisa meluas hingga ke Samudra Hindia, jika Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan. Disebutkan bahwa pasukan Teheran telah bersiap untuk berbagai skenario, termasuk skenario terburuk, jika kembali diserang oleh Washington.

Peringatan itu, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Jumat (25/9/2026), disampaikan oleh Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, yang merupakan penasihat senior urusan militer bagi pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan video yang dirilis melalui kantor berita Fars pada Kamis (24/9).

"Kami tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran (Presiden AS Donald) Trump dan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu," kata Safavi dalam pernyataannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan bahwa pasukan Iran telah bersiap menghadapi skenario terburuk, jika terjadi serangan lanjutan dari militer AS atau Israel terhadap fasilitas atau kepentingan nasional Teheran.

ADVERTISEMENT

Jika hal itu terjadi, Safavi memperingatkan bahwa cakupan konflik akan semakin meluas.

"Mengingat konflik yang telah meluas dari kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz hingga ke Laut Merah, ada kemungkinan bahwa, untuk merespons eskalasi perang, medan pertempuran akan meluas lebih jauh lagi, hingga mencapai Samudra Hindia atau mungkin wilayah lainnya," ucap Safavi memperingatkan AS.

Kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman dan didukung Iran, kembali bertempur sengit melawan pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi. Beberapa waktu terakhir, pasukan Houthi berhasil menguasai seluruh wilayah pesisir Yaman di tepi Laut Merah, yang memperkuat cengkeraman mereka atas Selat Bab al-Mandeb yang strategis -- jalur penghubung antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Iran telah sejak lama memberikan dukungan militer kepada Houthi, namun membantah terlibat dalam konflik Yaman.

Teheran juga menutup akses di Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global yang terletak di lepas pantai Iran, sebagai tindakan balasan atas serangan skala besar AS dan Israel yang memicu perang sejak akhir Februari lalu.

Iran dan AS saat ini terus memperebutkan kendali atas Selat Hormuz. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik kembali berlanjut pekan ini, dengan pembicaraan antara pejabat kedua negara digelar di New York, di sela-sela Sidang Umum PBB.

Teheran telah mengajukan syarat-syarat untuk mengakhiri perang, termasuk pencabutan sanksi dan pelepasan aset-aset yang dibekukan di luar negeri. Dalam wawancara eksklusif dengan AFP pada Selasa (22/9), juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi, menyinggung soal diakhirinya konflik Yaman sebagai syarat baru.

Sementara itu, para pejabat Iran sebelumnya telah mengancam akan memperluas cakupan geografis konflik jika AS melanjutkan kembali serangan mereka.

Namun peringatan yang disampaikan Safavi ini menandai pertama kalinya seorang penasihat senior pemimpin tertinggi Iran secara eksplisit menyebut Samudra Hindia, yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer strategis AS-Inggris di Diego Garcia, yang berjarak hampir 4.000 kilometer dari daratan Iran.

Simak juga Video 'Dubes Israel Coba Kasih Starlink ke Diplomat Iran di Sidang PBB':

Halaman 3 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini