Tantang AS, Iran Perketat Syarat untuk Akhiri Perang

Tantang AS, Iran Perketat Syarat untuk Akhiri Perang

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 23 Sep 2026 16:57 WIB
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi (AFP)
Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi (AFP)
Teheran -

Iran memperketat persyaratan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS), menyusul kegagalan penerapan kesepakatan yang diteken pada Juni lalu. Teheran menegaskan bahwa Washington "tidak punya pilihan" selain menerima tuntutan tersebut.

Iran sebelumnya telah menyepakati nota kesepahaman (MoU) dengan AS yang merinci langkah menuju penyelesaian permanen konflik tersebut. Namun kesepakatan itu akhirnya kandas karena kedua belah pihak saling menuduh telah melanggarnya.

"Mereka (AS) melanggar kesepakatan dan melakukan tindakan keji lainnya. Oleh karena itu, kami memperketat syarat-syarat kami," kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebi, dalam wawancara eksklusif dengan AFP di Teheran. seperti dilansir AFP, Rabu (23/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menegaskan jika AS tetap bersikeras dengan sikapnya, maka "mereka hanya akan mempersulit diri mereka sendiri".

ADVERTISEMENT

"Kami bukan mainan mereka, dan mereka tidak bisa secara sepihak melanggar kesepakatan yang telah mereka tandatangani sesuka hati," tegas Mohebi.

Dalam wawancara tersebut, Mohebi memaparkan pandangan Iran mengenai perang di Timur Tengah yang telah berlangsung hampir tujuh bulan, dan prospek penyelesaiannya di tengah mandeknya upaya diplomatik.

MoU yang diteken secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump, mencakup tuntutan Iran mengenai pencabutan sanksi minyak AS, penghapusan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencairan aset Iran di luar negeri, dan diakhirinya perang di semua front, termasuk Lebanon.

Sejak sejak MoU itu kolaps, Mohebi mengatakan bahwa Iran telah memperkeras tuntutannya, termasuk dengan meminta pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan, senilai US$ 24 miliar (Rp 427,4 triliun), di muka -- sebelum negosiasi dimulai -- bukan lagi secara bertahap.

"Masalah Yaman tidak termasuk dalam agenda kesepakatan sebelumnya. Kini kami menuntut agar pencabutan blokade terhadap Yaman dimasukkan ke dalam kesepakatan tersebut," cetus Mohebi, merujuk pada blokade oleh koalisi pimpinan AS terhadap pelabuhan dan bandara di Yaman yang dikuasai kelompok Houthi.

Iran Sebut Blokade Ekonomi AS Akan Gagal

Saat upaya diplomatik terhenti, AS beralih ke kampanye yang mereka sebut sebagai "pencekikan ekonomi" terhadap Iran. Langkah itu menargetkan bank-bank asing yang diduga memiliki kaitan dengan Teheran, dan baru-baru ini mengumumkan larangan operasional bagi seluruh maskapai Iran.

"Amerika Serikat tidak akan mencapai tujuannya melalui blokade ekonomi -- meskipun hal itu merugikan kami -- dan kami pasti akan melakukan pembalasan," ucap Mohebi dalam wawancara tersebut.

Dia juga memperingatkan bahwa Iran akan meningkatkan responsnya jika AS melancarkan serangan baru. Meskipun Mohebi juga menegaskan bahwa Teheran "tidak berniat memperluas perang".

"Jika mereka bertindak gegabah dan sejarah terulang kembali, perlawanan kami niscaya akan semakin menguat, didukung oleh pengalaman yang telah kami peroleh," ujar Mohebi memperingatkan AS.

"Kali ini, kami tidak hanya akan sekadar membalas; kami akan mengambil sikap ofensif, dan Amerika akan menyesali tindakannya, serta menanggung penghinaan yang lebih besar daripada sebelumnya," tegasnya.

Terakhir, Mohebi mengungkapkan bahwa AS berupaya menjalin kontak dengan IRGC. "Pihak Amerika mencoba menghubungi kami, tetapi kami menolak kontak semacam itu. Hubungan kami dengan musuh -- selama mereka tetap bersikap memusuhi -- hanya dilakukan melalui senjata," tandasnya.

Tonton juga video "Iran Uji Coba Senjata Baru, Siap Dibawa ke Medan Tempur!"

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini