Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan udara terhadap target-target kelompok Houthi di Yaman hanya beberapa menit sesaat sebelum serangan itu dilancarkan.
Informasi tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Selasa (22/9/2026), diungkapkan oleh media terkemuka AS, New York Times (NYT), dalam laporannya yang mengutip sejumlah pejabat pemerintahan AS pada Minggu (20/9) waktu setempat.
Menurut laporan NYT, keputusan pembatalan rencana serangan itu diambil Trump pada tengah hari Minggu (20/9) waktu setempat, setelah para komandan militer AS menyetujui daftar target serangan dan para personel militer sedang memuat amunisi ke pesawat-pesawat yang dipersiapkan untuk operasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump, sebut NYT dalam laporannya, awalnya enggan melancarkan serangan udara terhadap Houthi dalam rapat dengan para penasihatnya pada Rabu (17/9) waktu setempat.
Namun kemudian dia memerintahkan Pentagon atau Departemen Pertahanan AS untuk bersiap melakukan tindakan militer setelah percakapan via telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), pada Kamis (18/9) waktu setempat.
Laporan NYT menyebutkan bahwa MBS mendesak Trump untuk melakukan intervensi langsung, di tengah keberhasilan Houthi merebut seluruh wilayah pesisir Yaman di tepi Laut Merah dalam serangan kilat beberapa waktu lalu.
Tetapi, Trump kembali mengubah keputusannya sesaat sebelum misi tempur diluncurkan pada Minggu (20/9), dengan memerintahkan pembatalan serangan yang telah direncanakan.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas laporan NYT tersebut.
Laporan ini muncul setelah Trump mengatakan, pada Minggu (20/9), bahwa Washington memiliki saluran komunikasi langsung dengan Houthi. Trump juga menyebut bahwa kelompok yang didukung Iran itu telah setuju untuk tidak menyerang pasukan AS.
Washington terus memprioritaskan bantuan berupa saran dan intelijen dibandingkan intervensi tempur secara langsung. Menurut CNN, saat ini terdapat antara 100-200 penasihat militer AS yang beroperasi di Saudi untuk memberikan dukungan intelijen geospasial dan penentuan target bagi operasi Saudi melawan Houthi.
Keputusan Trump membatalkan rencana serangan itu juga dilakukan saat ada kesepakatan sebelumnya antara AS dan Houthi yang dicapai melalui mediasi di Muscat, ibu kota Oman.
Perwakilan Houthi mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan AS, yang disepakati tahun 2025, masih berlaku dan mereka tidak berniat menargetkan kapal-kapal Amerika.
Konflik Yaman kembali berkobar sejak Juli lalu, dengan pasukan Houthi terlibat pertempuran sengit dan mematikan dengan pasukan pemerintah Yaman, yang didukung Saudi.
Pertempuran terbaru itu turut menyeret Riyadh ke dalam konflik. Houthi telah mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi dan menargetkan kapal-kapal Saudi dalam serangan di Laut Merah. Pasukan Houthi juga melancarkan serangkaian serangan terhadap wilayah Saudi beberapa waktu terakhir.
Simak juga Video 'Bantah Serang Makkah, Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di Yanbu':










































