Amerika Serikat saat ini memiliki senjata yang ditempatkan di luar angkasa. Demikian diumumkan Angkatan Luar Angkasa AS pada hari Senin (14/9) waktu setempat, mengkonfirmasi keberadaan senjata di luar angkasa untuk pertama kalinya.
"AS memiliki senjata kendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Pasukan Gabungan dari tindakan musuh yang mengancam," kata juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS dalam sebuah pernyataan yang tidak memberikan rincian spesifik tentang senjata yang dimaksud.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (15/9/2026):
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- AS Akui Perang Iran Picu Kekurangan Amunisi, 4 Jet Tempur F-15 Hancur
Laporan terbaru Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa militer AS menghadapi kekurangan amunisi akibat perang melawan Iran yang memakan biaya besar.
Pengakuan tersebut, seperti dilansir AFP, Selasa (15/9/2026), disampaikan oleh Inspektur Jenderal Pentagon dalam laporan wajib pertama yang disampaikan kepada Kongres AS dan diungkapkan ke publik pada Senin (14/9) waktu setempat.
Dalam laporan itu, Inspektur Jenderal Pentagon menyatakan bahwa antara 28 Februari hingga 30 Juni, operasi militer melawan Iran yang diberi nama "Operation Epic Fury" (OEF)) telah menelan biaya sekitar US$ 33,4 miliar, atau setara Rp 590,9 triliun.
- Wow! 110 Juta Ton Mineral Tanah Jarang dan Uranium Ditemukan di Madinah
Arab Saudi mengumumkan telah menemukan sekitar 110 juta ton mineral tanah jarang dan bijih uranium di wilayah Madinah.
Hal tersebut, seperti dilansir Al Arabiya dan Arab News, Selasa (15/8/2026), diumumkan oleh Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, dalam Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang digelar di Wina, Austria, pekan ini. IAEA merupakan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Temuan yang diungkapkan Pangeran Abdulaziz itu, mencakup unsur tanah jarang dengan konsentrasi tinggi dan uranium dengan konsentrasi yang menjanjikan.
- Rentetan Rudal-Drone Houthi Hantam Arab Saudi, 13 Orang Luka
Rentetan serangan rudal dan drone yang dilancarkan kelompok pemberontak Houthi yang bermarkas di Yaman, menghantam setidaknya tiga kota di wilayah Arab Saudi. Sedikitnya 13 orang, yang semuanya warga sipil, mengalami luka-luka akibat serangkaian serangan tersebut.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Brigadir Jendral Turki al-Malki, seperti dilansir TRT World, Selasa (15/9/2026), mengonfirmasi serangan rudal dan drone Houthi terhadap kerajaan tersebut, yang disebutnya sebagai serangan terkoordinasi.
Al-Malki menyebut serangan lintas perbatasan itu menargetkan Khamis Mushait, Abha, dan Taif.
- Arab Saudi Akan Bertindak Tegas Usai Serangan Houthi
Pemerintah Arab Saudi memperingatkan kelompok pemberontak Houthi bahwa mereka akan bertindak "tegas" menyusul serangkaian serangan rudal dan drone yang melukai 13 warga sipil di kerajaan tersebut.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Brigadir Jenderal Turki al-Malki, mengonfirmasi pada Selasa (15/9) bahwa serangan rudal dan drone Houthi, yang disebutnya sebagai serangan terkoordinasi, menargetkan wilayah Khamis Mushait, Abha, dan Taif.
Koalisi pimpinan Saudi, seperti dilansir AFP dan TRT World, Selasa (15/9/2026), menegaskan bahwa pihaknya akan menanggapi serangan-serangan tersebut "dengan tegas demi melindungi kedaulatan Kerajaan".
- Pertama Kali, AS Akui Tempatkan Senjata di Luar Angkasa
Amerika Serikat saat ini memiliki senjata yang ditempatkan di luar angkasa. Demikian diumumkan Angkatan Luar Angkasa AS pada hari Senin (14/9) waktu setempat, mengkonfirmasi keberadaan senjata di luar angkasa untuk pertama kalinya.
"AS memiliki senjata kendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Pasukan Gabungan dari tindakan musuh yang mengancam," kata juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS dalam sebuah pernyataan yang tidak memberikan rincian spesifik tentang senjata yang dimaksud.
"Kendali ruang angkasa mencakup area misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain ruang angkasa -- menggunakan cara kinetik dan non-kinetik untuk mempengaruhi kemampuan musuh," imbuh pernyataan itu, dilansir kantor berita AFP, Selasa (15/9/2026). Mereka menambahkan bahwa "kemampuan ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif dan defensif."
Lihat juga Video Terpopuler: Wartawan Pantau Anak Krakatau Hilang, Prabowo Respons AHY










































