Gempar Penyiar Berita di Uganda Terpilih Jadi Raja

Gempar Penyiar Berita di Uganda Terpilih Jadi Raja

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 14 Sep 2026 13:13 WIB
Edward Rukidi Kijanangoma.(dok. UBC Uganda via The Guardian)
Edward Rukidi Kijanangoma.(dok. UBC Uganda via The Guardian)
Kampala -

Uganda sedang digemparkan oleh terpilihnya seorang penyiar berita menjadi Raja baru untuk Kerajaan Tooro yang ada di negara Afrika Timur tersebut. Edward Rukidi Kijanangoma, yang berusia 56 tahun, merupakan sepupu dari Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV yang meninggal dunia bulan lalu.

Raja Oyo, yang sempat memegang gelar sebagai penguasa monarki termuda di dunia, meninggal dunia dalam usia 34 tahun bulan lalu, ketika menjalani perawatan medis di Amerika Serikat (AS) untuk penyakit kanker yang dideritanya.

Kepergian Raja Oyo, seperti dilansir The Guardian, Senin (14/9/2026), menyisakan konflik perebutan takhta yang sengit. Mendiang Raja Oyo diketahui tidak pernah menikah dan tidak diketahui memiliki anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komite yang terdiri atas anggota klan Kerajaan Tooro mengumumkan pada Rabu (9/9) pekan lalu bahwa mereka telah memilih Kijanangoma, sepupu Raja Oyo, sebagai Raja yang baru untuk kerajaan tersebut.

ADVERTISEMENT

Uganda dipimpin oleh seorang kepala negara yang dipilih dalam pemilu, tapi tetap mempertahankan sejumlah kerajaan yang telah ada sejak sebelum era kolonial Inggris. Kerajaan yang tersisa di Uganda dipandang sebagai benteng identitas dan warisan budaya tradisional negara tersebut.

Kijanangoma yang diumumkan sebagai Raja baru untuk Kerajaan Tooro, dikenal sebagai seorang penyiar berita dan editor di lembaga penyiaran negara UBC.

Menyusul pengumuman tersebut, keluarga inti mendiang Raja Oyo menyatakan bahwa anak laki-laki, yang selama ini tidak diketahui keberadaannya oleh publik, seharusnya menjadi penerus takhta sesuai dengan amanat dalam surat wasiatnya.

Keberadaan anak laki-laki itu baru diketahui ketika Perdana Menteri Kerajaan Tooro mengungkapkan dalam pernyataan mengenai kematian Raja Oyo bahwa sang raja memiliki seorang putra.

Pemakaman mendiang Raja Oyo di UgandaPemakaman mendiang Raja Oyo di Uganda Foto: REUTERS/Michael Muhati

Namun, para pendukung suksesi Kijanangoma berpendapat bahwa keluarga mendiang Oyo tidak mampu memberikan informasi dasar mengenai sosok yang disebut-sebut sebagai putra raja tersebut.

Seorang sumber yang mengetahui soal perebutan takhta itu mengatakan bahwa otoritas Uganda berhasil mendorong terlaksananya suksesi Kijanangoma pada Jumat (11/9). Juru bicara pemerintah tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Kijanangoma, yang memilih untuk tidak menonjolkan diri selama perebutan takhta berlangsung, digambarkan oleh sesama jurnalis Uganda sebagai sosok yang pendiam dan rendah hati.

Selain mendapatkan takhta, Raja baru Kerajaan Tooro akan mewarisi aset kerajaan yang cukup besar, termasuk lahan yang luas dan dana tuna dalam jumlah signifikan dari pemerintah pusat Uganda.

Saat pemakaman Oyo digelar pada Sabtu (12/9), Kijanangoma melemparkan sembilan biji kopi ke dalam liang lahat di Kompleks Pemakaman Kerajaan Karambi, yang menandai penyerahan kekuasaan secara resmi di kerajaan yang terletak di wilayah barat Uganda tersebut.

Oyo menutup usia setelah bertakhta selama 31 tahun. Sosoknya menjadi pemberitaan global pada tahun 1995 silam, ketika Oyo naik takhta pada usia 3 tahun. Foto-fotonya, yang saat itu masih balita, mengenakan mahkota dan jubah kerajaan memicu rasa ingin tahu dan kekaguman di seluruh dunia.

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini