Netanyahu Dituduh Abaikan Peringatan UEA Soal Serangan Hamas

Netanyahu Dituduh Abaikan Peringatan UEA Soal Serangan Hamas

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 08 Sep 2026 16:01 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (dok. AFP/JIM WATSON)
PM Israel Benjamin Netanyahu (dok. AFP/JIM WATSON)
Tel Aviv -

Kecaman menghujani Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, menyusul laporan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) telah memperingatkannya soal serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, namun diabaikannya. Para pemimpin oposisi Israel menilai Netanyahu tidak layak menjabat.

Laporan surat kabar terkemuka Israel, Haaretz, seperti dilansir AFP, Selasa (8/9/2026), mengungkapkan bahwa Presiden UEA, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, telah berbicara dengan Netanyahu sekitar 1,5 minggu sebelum serangan tersebut dan memberitahunya bahwa Hamas sedang merencanakan operasi besar-besaran.

Laporan Haaretz itu didasarkan pada keterangan sumber-sumber yang sebagian besar tidak disebut namanya dan berdasarkan kutipan buku yang ditulis oleh salah satu wartawannya, yang akan segera terbit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kantor Netanyahu menyebut laporan media tersebut sebagai "kebohongan mutlak" dan membantah bahwa PM Israel tersebut berbicara dengan pemimpin UEA pada saat itu.

ADVERTISEMENT

Namun kalangan oposisi beramai-ramai mengecam Netanyahu, salah satunya adalah Gadi Eisenkot, mantan komandan militer Israel yang kini menjadi rival utama Netanyahu dalam pemilu 27 Oktober mendatang.

Eisenkot menuduh Netanyahu menghindari tanggung jawab atas kegagalan keamanan dan melontarkan alasan yang "menyedihkan", seperti klaim bahwa dia tidak dibangunkan cukup cepat pada pagi hari saat serangan terjadi.

"Netanyahu menerima puluhan peringatan terkait (serangan) 7 Oktober dan mengabaikan semuanya. Dia tidak layak menjabat," tegas Eisenkot dalam kritikan via media sosial X.

Kecaman juga datang dari Naftali Bennett, mantan PM Israel yang juga mencalonkan diri dalam pemilu mendatang. Bennett menyebut Netanyahu "memikul tanggung jawab pribadi dan langsung" atas kematian akibat serangan 7 Oktober, yang merupakan serangan paling mematikan dalam sejarah Israel.

"Netanyahu tidak boleh terus menduduki jabatan itu bahkan untuk satu menit lagi," ucap Bennett.

Haaretz, dalam laporannya, menyebut pemimpin Hamas, mendiang Yahya Sinwar, yang tewas dibunuh Israel, pernah memperingatkan seorang mantan pejabat Palestina bahwa kelompok militan tersebut sedang mempersiapkan "operasi yang mengerikan", yang dia gambarkan sebagai "gempa bumi".

Mantan pejabat Palestina itu, sebut Haaretz, menyampaikan pesan tersebut kepada seorang penasihat dari UEA, yang kemudian meneruskannya kepada pemimpin UEA, yang lantas menghubungi Netanyahu. Menurut laporan Haaretz, Netanyahu menanggapi peringatan itu dengan tenang.

Belum ada tanggapan langsung UEA atas laporan ini.

UEA menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020 sebagai bagian dari Abraham Accords, yang dimediasi Amerika Serikat (AS) selama masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump. Netanyahu memandang hubungan erat dengan UEA sebagai pencapaian penting.

Simak juga Video 'Dampak Serangan Israel ke Selatan Lebanon, 9 Orang Tewas':

Halaman 3 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini