Wakil Presiden (Wapres) Filipina Sara Duterte membayar uang jaminan di pengadilan Manila pada hari Sabtu (5/9), sehari setelah surat perintah penangkapan dikeluarkan atas dugaan ancaman pembunuhan terhadap presiden negara tersebut.
Duterte didakwa bulan lalu dengan "ancaman serius" yang berasal dari konferensi pers, di mana ia mengklaim telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Presiden Filipina Ferdinand Marcos, istrinya, serta sepupunya yang merupakan anggota kongres, jika ia terbunuh terlebih dahulu.
Sara kemudian mengatakan bahwa komentar tersebut telah disalahartikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tuduhan ancaman pembunuhan tersebut juga merupakan elemen penting dari persidangan pemakzulan Senat yang sedang berlangsung, di mana vonis bersalah akan membuatnya dicopot dari jabatannya dan dilarang secara permanen dari dunia politik.
"Wakil presiden secara sukarela hadir di hadapan pengadilan yang mengeluarkan surat perintah tersebut, jadi tidak perlu baginya untuk ditangkap," kata pengacaranya, Lawrence Lim, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (5/9/2026).
Ia berbicara setelah Duterte keluar dari gedung pengadilan sambil memegang surat perintah pengadilan yang mengkonfirmasi bahwa ia telah membayar uang jaminan sebesar 360.000 peso (US$5.740) atau sekitar Rp 101 juta.
Ia juga menjalani prosedur pendataan standar di mana sidik jarinya dicatat, meskipun tidak ada foto wajah yang diambil, kata Lim.
Sara mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa pengacaranya menyarankan agar ia membayar uang jaminan demi keselamatannya.
"Mereka menjelaskan kepada saya bahwa saya akan mendapatkan perlindungan yang lebih baik dari warga sipil yang dapat memantau situasi saya, daripada berada di tahanan, di mana saya akan terisolasi dan memiliki sedikit perlindungan," katanya.
Sebelum memasuki gedung pengadilan, Sara mengatakan kepada wartawan bahwa dia mengkhawatirkan keselamatannya.
"Saya tidak mau (membayar uang jaminan) jika tidak ada yang mengawasi. Apakah mereka akan menjebloskan saya (ke penjara), kemudian suatu malam saya meninggal dalam tidur?," ujarnya, mengklaim dirinya akan menjadi korban polisi.










































