Tekad Iran Balas Dendam atas Serangan AS ke Pesta Pernikahan

Tekad Iran Balas Dendam atas Serangan AS ke Pesta Pernikahan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 04 Sep 2026 21:04 WIB
Iranian IRGC cadets attend the funeral of Razi Mousavi, a senior commander in the IRGCs Quds Force who was killed on December 25 in an Israeli strike in Syria, in Tehran, on December 28, 2023. (AFP)
Ilustrasi. IRGC (Foto: dok. AFP)
Teheran -

Iran menuding Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke sebuah pesta pernikahan hingga menyebabkan empat orang tewas. Iran bertekad membalas serangan tersebut.

"Darah murni para martir ini... tidak akan dibiarkan begitu saja dan pasti akan dibalas," kata Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, dilansir Al Arabiya dan AFP, Jumat (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan itu terjadi pada Selasa malam lalu di kota pesisir Kuhestak di sepanjang Selat Hormuz, setelah Amerika Serikat mengumumkan serangan terhadap target-target milik IRGC.

Pihak berwenang Iran mengatakan serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang, termasuk seorang anak, dan melukai 68 orang lainnya di pesta pernikahan itu. Pejabat Iran menyebut serangan tersebut sebagai "kejahatan perang."

Washington tidak menanggapi serangan itu secara langsung. Namun, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan, "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil."

Wapres AS Selidiki

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan bahwa Washington sedang menyelidiki laporan mengenai serangan udara yang menghantam pesta pernikahan di wilayah Iran bagian selatan.

U.S. Vice President JD Vance speaks during a press briefing at the White House in Washington, D.C., U.S., June 18, 2026. REUTERS/Eric LeeWapres AS JD Vance (REUTERS/Eric Lee)

"Saya sangat skeptis mengenai hal ini," ucap Vance menanggapi laporan media pemerintah Iran yang menyebut salah satu serangan udara AS menghantam perayaan pernikahan di Sirik, Iran bagian selatan.

Dia mengatakan telah menerima laporan singkat mengenai penyelidikan tersebut, tetapi belum memiliki informasi yang memastikan apakah pasukan AS yang bertanggung jawab.

"Hal yang dapat saya katakan dengan keyakinan 100 persen adalah, tidak seperti IRGC, Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran," tegas Vance dalam pernyataannya pada Kamis (3/9/2026) waktu setempat.

"Kami tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Kami belum pernah melakukannya," ujarnya.

Namun, Vance juga mengatakan bahwa korban dari kalangan sipil bisa saja jatuh selama operasi militer berlangsung. "Sayangnya, tentu saja, terkadang hal-hal seperti itu terjadi," sebutnya.

Perang AS vs Iran

Iran telah terlibat peperangan sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran secara mendadak yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Gencatan senjata pada bulan April sempat mengakhiri fase awal gempuran intensif, tetapi baku tembak sporadis terus berlanjut, terutama di kawasan Selat Hormuz dan sekitarnya.

Pada Minggu (30/8/2026), pasukan AS menyerang peluncur-peluncur roket milik Iran di Pulau Larak, yang terletak di lepas pantai selatan negara tersebut. Washington menyebut serangan itu bertujuan mencegah Teheran kembali menebar ranjau laut di Selat Hormuz.

Iran membalas dengan menargetkan posisi-posisi militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab. Pertempuran masih terus berlanjut dengan kedua negara saling melancarkan serangan balasan.

Halaman 2 dari 3
(isa/aik)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini