Walkot New York Mamdani Larang Siswa SD dan SMP Pakai AI

Walkot New York Mamdani Larang Siswa SD dan SMP Pakai AI

Anggi Muliawati - detikNews
Kamis, 03 Sep 2026 21:01 WIB
New York City Mayor Zohran Mamdani delivers a speech to mark the 250th anniversary of the United States of America at City Hall in New York, NY, U.S., July 3, 2026. Anna Connors/Pool via REUTERS
Foto: Wali Kota New York Zohran Mamdani (via REUTERS/Anna Connors)
Jakarta -

Pemerintah Kota New York, Amerika Serikat, melarang siswa sekolah negeri menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga tingkat SMP. Kebijakan tersebut diberlakukan selama satu tahun untuk melindungi pendidikan dan kesehatan mental anak.

Dilansir AFP, Kamis (3/9/2026), kebijakan itu diumumkan Wali Kota New York Zohran Mamdani pada Rabu (2/9). Aturan tersebut berdampak pada hampir 600 ribu siswa sekolah negeri hingga kelas 8 SMP. Kebijakan ini menjadi perhatian di Amerika Serikat karena dewan sekolah New York merupakan yang terbesar di negara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hanya siswa sekolah menengah atas (SMA), yang berusia 14 tahun ke atas, yang boleh menggunakan AI dalam program percontohan terbatas. Mereka juga akan mendapatkan kelas literasi AI dua kali dalam setahun.

Sementara itu, chatbot pendamping yang dirancang khusus untuk memberikan dukungan emosional akan dilarang dipakai di semua jenjang pendidikan.

"Industri teknologi ingin kita percaya bahwa pendidikan dini yang didukung AI bukan hanya sesuatu yang tak terhindarkan, tetapi juga diperlukan. Kami tidak melihatnya seperti itu," kata Wali Kota New York Zohran Mamdani dalam sebuah pernyataan.

"Anak-anak membutuhkan guru dan hubungan antarmanusia untuk belajar dan berkembang. Mereka perlu mengembangkan keterampilan bersama teman-temannya, membangun hubungan dengan pendidik, dan menghadapi masalah-masalah sulit secara mandiri," lanjutnya.

Para guru masih boleh menggunakan AI untuk menyusun rencana pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugas administratif.

Selama tahun ajaran 2026-2027, satuan tugas yang terdiri dari siswa, guru, orang tua, pejabat terpilih, dan pakar industri akan bertemu untuk menilai dampak kebijakan tersebut. Hasil kajian akan dipublikasikan.

"Kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi yang berkembang pesat mendukung anak-anak dan pembelajaran mereka, bukan justru menghambatnya," kata Gubernur New York Kathy Hochul.

Aturan baru tersebut menyusul kerangka awal yang diterbitkan pada Maret lalu. Saat itu, siswa masih diperbolehkan menggunakan AI untuk penelitian, eksplorasi, dan proyek kreatif. Kebijakan itu memicu kemarahan para orang tua dan guru yang menilai aturan itu terlalu longgar.

Kepala Dinas Pendidikan New York Kamar Samuels mengakui pihaknya telah keliru dalam menyampaikan kebijakan sebelumnya. Pihaknya akan meninjau masukan yang diterima untuk dijadikan bahan dalam penyusunan aturan berikutnya.

Tonton juga video "Insiden Penusukan di Times Square, Mamdani: 1 Korban dan Pelaku Tewas"

(amw/lir)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini