Operasi Anyar Trump di Iran Lewat 'Tanker for Tanker'

Operasi Anyar Trump di Iran Lewat 'Tanker for Tanker'

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 03 Sep 2026 06:00 WIB
F/A-18 Super Hornets stand ready for launch on the flight deck of U.S. Navy Nimitz-class aircraft carrier USS George Washington, en route to support U.S. military operations in the war with Iran, while operating in the Indian Ocean August 18, 2026. U
Foto: Jet tempur AS via REUTERS/US Navy
Jakarta -

Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran masih berkecamuk. Usai sempat mereda selama sebulan, kedua negara kini kembali terlibat saling jual beli serangan.

Eskalasi ini berawal saat militer AS menyerang Pulau Larak di dekat Selat Hormuz pada Senin (31/8). Serangan tersebut menjadi yang pertama dalam 30 hari terakhir.

Iran lantas membalas dengan melepaskan rudal ke pangkalan militer AS yang berada di Yordania. Kini, AS menjalankan operasi baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Operasi Tanker for Tanker

Militer AS menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran pada Selasa (1/9) waktu setempat sebagai bagian dari rentetan serangan yang lebih luas terhadap Teheran. Kedua kapal tanker yang dibombardir pasukan Washington itu disebut sedang berlabuh di lepas pantai Iran.

Penargetan kapal tanker Iran itu disebut sebagai kebijakan pencegahan baru "tanker for tanker" yang disetujui Presiden AS Donald Trump.

Laporan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (2/9/2026), disampaikan oleh media Axios yang mengutip sejumlah sumber pejabat AS, yang tidak disebut namanya. AS kembali menggempur target-target Iran sejak akhir pekan kemarin, dan Teheran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Serangan itu, menurut Axios, menandai pertama kalinya AS menargetkan kapal tanker Iran sebagai tindakan balasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan bukan untuk mencegah pelanggaran terhadap blokade angkatan laut AS.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global, menjadi titik perselisihan terbaru antara Washington dan Teheran. Kedua negara memperebutkan kendali atas jalur perairan strategis itu, yang sebagian besar diblokade selama perang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.

Seorang pejabat AS, yang dikutip Axios, mengatakan bahwa operasi menargetkan kapal tanker pemerintah Iran itu merupakan bagian dari kebijakan baru "tanker for tanker" yang telah disetujui oleh Trump, untuk mencegah serangan Teheran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

100 Target di Iran Diserang

Menurut keterangan para pejabat AS, sejumlah drone tempur AS menembakkan rudal-rudal yang menghantam ruang mesin kedua kapal tanker Iran tersebut.

Serangan dilancarkan saat kedua kapal tanker itu sedang berlabuh di lepas pantai Iran, tepatnya di sebelah utara garis blokade angkatan laut AS.

Para pejabat AS mengatakan bahwa sekitar 100 target Iran telah diserang pada Selasa (1/9) waktu setempat, termasuk lokasi pertahanan udara, sistem radar, aset penebar ranjau, fasilitas komunikasi, peluncur rudal jelajah anti-kapal dan peluncur drone tempur milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, telah mengonfirmasi bahwa gelombang serangan terbaru menargetkan unit-unit IRGC yang mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Axios melaporkan bahwa serangan itu merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mencegah Iran membangun kembali kemampuan yang digunakan untuk mengganggu pelayaran.

Menurut seorang pejabat AS, serangan itu melemahkan kemampuan Iran dan "memberikan waktu setidaknya satu bulan" dengan tingkat ancaman yang lebih rendah bagi kapal-kapal komersial.

Simak juga Video Trump Usul Selat Hormuz Jadi Selat Trump!

Halaman 3 dari 2
(ygs/ygs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini