Lebih dari 2.500 bangunan hancur di Lembah Trishuli, Nepal, akibat banjir bandang yang dahsyat pada 26 Agustus lalu. Jumlah ini berdasarkan perhitungan analisis data dari observatorium Copernicus milik Eropa.
Dilansir AFP, Selasa (1/9/206), jumlah tersebut mencakup sekitar dua pertiga dari seluruh bangunan di tiga zona yang berpotensi terdampak, yang diteliti oleh layanan manajemen darurat Copernicus.
Jika bangunan yang mengalami kerusakan sebagian turut diperhitungkan, proporsi bangunan yang terdampak meningkat menjadi lebih dari tujuh dari setiap 10 bangunan; hal ini menegaskan betapa dahsyatnya banjir tersebut saat menerjang lembah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah-wilayah ini--yang meliputi sebagian kota Timure, Syabrubesi, dan Bidur di sebelah utara ibu kota Kathmandu--merupakan tempat tinggal bagi hampir 6.000 orang sebelum bencana terjadi.
Citra wilayah di sekitar Bharatpur, kota terpadat ketiga di Nepal, masih dalam tahap analisis pada Senin (31/8) pagi. Para ilmuwan mengaitkan banjir bandang tersebut dengan runtuhnya gletser raksasa di pegunungan Himalaya.
Banjir itu menerjang pos perbatasan Gyirong antara Nepal dan Tibet (wilayah otonom China) setelah meluncur deras sejauh sekitar 20 kilometer (12 mil) dari lokasi gletser.
Kota perbatasan kecil Timure beserta wilayah sekitarnya kehilangan lebih dari 80% bangunannya. Sepuluh kilometer lebih jauh ke selatan, wilayah Syabrubesi yang dilanda bencana kehilangan hampir tiga perempat bangunannya.
Desa ini merupakan titik awal jalur pendakian Langtang yang terkenal serta rute yang sering dilalui oleh para peziarah Hindu.
Lebih jauh ke hilir, kawasan tepi sungai di sekitar Bidur--pusat administrasi distrik Nuwakot sekaligus pangkalan bagi tim penyelamat--mengalami kehancuran lebih dari 1.800 bangunan, atau tiga dari setiap lima bangunan.
Selain rumah warga, bencana ini juga menghancurkan jalan dan jembatan, sehingga menyulitkan penyaluran bantuan serta upaya pencarian korban hilang.










































