Putin Bertemu Xi Jinping, Rusia Ingin Kerja Sama AI dengan China

Putin Bertemu Xi Jinping, Rusia Ingin Kerja Sama AI dengan China

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 01 Sep 2026 04:01 WIB
Vladimir Putin melakukan kunjungan resmi ke China dan disambut langsung oleh Xi Jinping dalam upacara kenegaraan di Balai Besar Rakyat, Beijing, Rabu (20/5/2026). Pertemuan kedua pemimpin tersebut menjadi sorotan dunia di tengah dinamika geopolitik d
Vladimir Putin saat melakukan kunjungan resmi ke China dan disambut langsung oleh Xi Jinping dalam upacara kenegaraan di Balai Besar Rakyat, Beijing, Rabu (20/5/2026). (REUTERS)
Jakarta -

Moskow berencana menjalin kerja sama dengan Beijing di bidang kecerdasan buatan (AI) dan inovasi digital. Hal ini disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden China Xi Jinping saat kedua pemimpin bertemu di Kirgistan.

Dilansir AFP, Selasa (1/9/2026), keduanya tiba di negara Asia Tengah tersebut untuk menghadiri pertemuan puncak dua hari Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), sebuah blok regional yang bertujuan menjadi penyeimbang kekuatan Barat.

Rusia, yang pasukannya sedang terjebak dalam konflik di Ukraina, telah mempererat hubungan dengan pelanggan minyak utamanya, China--negara yang tidak pernah mengecam Moskow atas invasi yang telah berlangsung selama empat setengah tahun itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kerja sama berkembang dengan sukses di berbagai bidang," ujar Putin kepada Xi menjelang pembicaraan mereka.

Pertemuan terakhir mereka berlangsung pada bulan Mei di Beijing.

"Inovasi digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan, juga membuka peluang baru bagi pembangunan ekonomi negara kita," kata Putin.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kremlin berupaya memperketat kendali atas ranah daring dengan menerapkan pemutusan akses internet massal secara berkala serta pembatasan terhadap aplikasi pesan populer.

Moskow mendorong warga Rusia untuk menggunakan platform pesan Max yang didukung pemerintah--sebuah aplikasi serbaguna tanpa enkripsi yang mirip dengan WeChat milik China; aplikasi ini menuai kritik karena dianggap menimbulkan kekhawatiran terkait privasi dan potensi pengintaian.

Pemerintah Rusia juga berulang kali mengancam akan memblokir situs-situs milik asing; langkah ini dipandang oleh para aktivis hak asasi sebagai bagian dari upaya lebih luas pihak berwenang untuk mengendalikan dan memantau penggunaan internet.

Halaman 2 dari 2
(rfs/rfs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini