Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia. Gempa dahsyat tersebut menewaskan lebih dari 200 orang berdasarkan perkiraan otoritas setempat.
Tim penyelamat hingga Selasa (11/8/2026) masih berpacu mencari korban yang kemungkinan tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Gempa terjadi pada Senin (10/8) pagi dan menjadi salah satu gempa terkuat yang melanda Kolombia dalam beberapa dekade. Guncangan merusak kawasan penghasil kopi di negara tersebut, termasuk rumah, apartemen, sekolah hingga fasilitas kesehatan.
Di sejumlah kota yang terdampak parah, petugas penyelamat bekerja sepanjang malam menggunakan alat berat seperti derek dan ekskavator. Mereka juga menggunakan tangan kosong untuk menyingkirkan puing-puing bangunan demi menemukan korban yang masih hidup.
"Kami fokus pada tugas mendesak untuk menyelamatkan nyawa, memastikan tim penyelamat tiba, serta membawa pasokan medis dan rumah sakit lapangan," kata Menteri Dalam Negeri Kolombia Rodrigo Lara kepada Blu Radio, dilansir Reuters, Selasa (11/8).
Kantor kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), OCHA, menyebut berdasarkan data resmi hingga Senin malam terdapat 126 orang meninggal dunia dan 1.495 orang terluka. Namun, perkiraan otoritas lokal pada Selasa menyebut jumlah korban tewas telah mencapai sekitar 224 orang.
Jumlah tersebut masih berpotensi berubah karena tim penyelamat baru mulai menjangkau sejumlah wilayah yang rusak dan jaringan komunikasi perlahan kembali pulih.
OCHA mencatat hampir 5.000 rumah mengalami kerusakan. Puluhan bangunan dilaporkan runtuh dan ratusan rumah lainnya hancur.
Rumah dan Bangunan Runtuh
Di Cali, warga berkumpul di jalan setelah sebagian rumah dan blok apartemen runtuh. Sejumlah keluarga terpaksa memasak di luar rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan.
Salah satu rumah sakit di kota tersebut juga mengalami kerusakan parah. Beberapa lantai teratas, termasuk area yang digunakan untuk perawatan anak, runtuh.
Direktur rumah sakit Irne Torres Castro mengatakan sejumlah pasien sempat terjebak. Sementara itu, sekitar 600 pasien lainnya harus mendapatkan perawatan di jalan yang dipenuhi puing-puing.
Kota Pereira menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Sejumlah kawasan permukiman berubah menjadi tumpukan beton dengan ruangan-ruangan rumah yang terbuka akibat bangunan runtuh.
Warga dan relawan membentuk rantai manusia untuk membantu proses evakuasi. Sebagian lainnya terdiam di sekitar lokasi sambil berusaha mendengarkan suara ketukan atau teriakan dari balik reruntuhan.
Fernanda Gaviria (33), warga Pereira, mengatakan sejumlah orang telah berhasil dievakuasi dari reruntuhan, baik dalam kondisi hidup maupun meninggal dunia.
"Saya masih tidak percaya. Kemarin pada waktu yang sama saya masih menyapa mereka, hari ini mereka sudah pergi. Ini sangat menyakitkan," ujarnya.
Gaviria mengatakan dirinya terpaksa tidur di taman setelah apartemennya mengalami kerusakan parah.
Bandara hingga Layanan Publik Terganggu
Gempa juga mengganggu infrastruktur penting di sejumlah wilayah Kolombia. Otoritas penerbangan sipil menutup enam bandara, yakni Quibdo, Pereira, Manizales, Armenia, Cartago, dan Buenaventura karena mengalami kerusakan.
Puluhan ruas jalan juga dilaporkan terdampak. Layanan listrik, air bersih, kesehatan dan komunikasi masih terganggu di sejumlah daerah, terutama di Choco yang berada dekat episentrum gempa.
Kondisi tersebut membuat proses pencarian korban dan pengiriman bantuan menjadi semakin sulit.
Pemerintah Kolombia telah mengaktifkan pusat-pusat komando darurat. Petugas, relawan dan lembaga kemanusiaan dikerahkan untuk menyalurkan tenda pengungsian, air minum, perlengkapan kebersihan, makanan dan bantuan medis.
Bantuan internasional juga mulai berdatangan. Amerika Serikat menyatakan telah mengalokasikan US$ 15,5 juta untuk kebutuhan tempat tinggal darurat, makanan, perlindungan dan penilaian kerusakan.
Sementara itu, Bank Pembangunan Inter-Amerika menyediakan US$ 50 juta untuk mendukung rekonstruksi apabila pemerintah Kolombia memintanya.
Dengan kondisi komunikasi yang masih terganggu di sejumlah wilayah terdampak, otoritas memperkirakan diperlukan waktu beberapa hari untuk mengetahui secara pasti skala kerusakan dan jumlah akhir korban tewas.
(azh/zap)