Nusa Tenggara Timur - Warga Nagekeo masih bertahan di tenda darurat setelah gempa M7,7 mengguncang Flores. Trauma dan gempa susulan membuat mereka belum berani tidur di rumah.
Foto
Trauma Gempa, Warga Nagekeo NTT Pilih Tidur di Tenda
Tati mencoba menidurkan anaknya menggunakan kelambu di tenda darurat yang dibuatnya di halaman rumah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Senin (24/8/2026).
Sejumlah warga di Kabupaten Nagekeo masih memilih bertahan di tenda darurat setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Tenda sederhana berbahan terpal menjadi tempat warga bertahan karena masih trauma terhadap gempa utama dan ribuan gempa susulan yang terus terjadi.
Warga memilih tidak kembali tidur di dalam rumah meski sebagian bangunan masih berdiri karena khawatir terhadap gempa susulan.
Gempa M7,7 yang berpusat sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, mengguncang kuat selama kurang lebih satu menit dan berdampak luas di sejumlah kabupaten di Pulau Flores.
Hingga 24 Agustus 2026, BMKG mencatat sebanyak 6.409 gempa susulan, dengan 33 gempa berkekuatan di atas magnitudo 5 dan 139 di antaranya dirasakan masyarakat.
Rangkaian gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
Data terbaru BNPB mencatat sebanyak 100 orang meninggal dunia, 1.603 orang mengalami luka-luka, dan 180.327 jiwa mengungsi akibat bencana yang melanda tujuh kabupaten/kota terdampak.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak gempa tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik, tetapi juga trauma dan kekhawatiran warga terhadap gempa susulan.
Di tengah proses pemulihan, sebagian pengungsi mulai kembali ke rumah setelah bangunan dinilai aman, termasuk 84 kepala keluarga atau 237 jiwa di Kabupaten Sikka yang dipulangkan dari pengungsian GOR Samador pada 24 Agustus 2026, sementara ribuan penyintas lainnya masih membutuhkan tempat tinggal sementara dan bantuan kebutuhan dasar.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































