Tarik Ulur Selat Hormuz

Tarik Ulur Selat Hormuz

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 11 Agu 2026 06:21 WIB
AS-Iran segera berunding di Swiss, Teheran tutup Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Selat Hormuz (BBC World)
Jakarta -

Akses Selat Hormuz masih dalam proses tarik ulur antara Iran dengan Amerika Serikat (AS). Iran tetap kukuh untuk tidak membuka jalur Selat Hormuz sebelum kesepakatan dipenuhi.

Diketahui, Iran telah menerapkan blokade efektif di selat tersebut sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari, serta berencana memungut biaya lintas bagi kapal-kapal yang melintas, sembari menyerang kapal-kapal yang dituduh berusaha menghindari rute yang ditetapkan Iran.

Serangan yang terus berlanjut di jalur perairan tersebut-yang sebelumnya bebas dilintasi sebelum perang-menyebabkan gagalnya gencatan senjata bulan April. Pihak mediator telah mendesak kedua belah pihak untuk kembali mematuhi ketentuan dalam nota kesepahaman bulan Juni yang menetapkan langkah menuju perundingan damai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir Aljazeera, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan negosiasi antara Iran dan Oman mengenai penetapan rute maritim baru di Selat Hormuz berjalan baik dan mencapai tahap akhir. Namun, ia menekankan hal ini tidak berarti jalur air strategis tersebut akan dibuka kembali.

Araghchi mengatakan bahwa rute yang ada saat ini di selat tersebut akan digantikan dengan rute baru dan para ahli sedang menyusun peta-petanya.

"Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Selat Hormuz dibuka kembali," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat lain yang telah disampaikan kepada pihak-pihak terkait melalui perantara, Senin (10/8/2026).

Araghchi menggambarkan pembicaraan dengan Oman tersebut sepenuhnya bersifat teknis dan hukum, yang bertujuan untuk menentukan rute maritim yang pertama kali ditetapkan pada tahun 1968.

Sementara itu, Kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, sebelumnya memaparkan daftar tuntutan atau syarat untuk membuka kembali selat Hormuz. Salah satu tuntutannya termasuk penghentian "perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak".

Ia juga menuntut pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.

Iran Tak Bakal Buka Selat Hormuz

Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Teheran. Salah satu syarat tersebut termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Dilansir AFP, Minggu (9/8/2026), Garda Revolusi Iran menyatakan strategi mereka adalah mempertahankan penutupan selat, "hingga musuh menerima semua syarat kami... selat ini kini sebenarnya merupakan medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan".


Kukuh Tak Lepas Selat Hormuz

Hal senada juga disampaikan seorang ulama senior yang memimpin Dewan Kebijakan Iran menegaskan bahwa Republik Islam tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz dalam keadaan apa pun.

Ayatollah Sadegh Amoli Larijani, yang badan legislatifnya bertanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan antara badan-badan legislatif tertinggi Iran, mengatakan bahwa kedaulatan atas Hormuz adalah milik Republik Islam itu.

"Kita tidak akan menyerah dalam keadaan apa pun, dan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelumnya," katanya pada hari Minggu (9/8) waktu setempat, dilansir media Iran, Press TV, Senin (10/8/2026).

Otoritas Iran mulai membatasi transit melalui Selat Hormuz pada awal Maret lalu, beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap negara tersebut.


Kesepakatan yang Harus Dipenuhi AS

Dilaporkan kantor berita Iran, Tasnim, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada hari Sabtu (8/8) lalu telah menetapkan daftar syarat untuk membuka kembali selat tersebut. Ini termasuk mengakhiri perang di semua front, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pengakhiran sanksi, pencairan aset yang dibekukan, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Syarat-syarat tersebut mempertegas ketentuan perjanjian Juni lalu, yang mencakup ketentuan untuk menciptakan dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar untuk Iran.

Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Minggu (9/8) bahwa strategi mereka adalah mempertahankan blokade mereka "sampai musuh menerima semua syarat kami... selat tersebut sekarang benar-benar menjadi medan perang bagi kami dan bukan hanya jalur perairan".

"Kita bersikap tenang," kata Trump tentang pendekatannya dalam sebuah wawancara dengan media Axios.

"Kita hanya setengah bernegosiasi dengan mereka," katanya. "Kita hanya mengamati Iran dengan inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," cetusnya.

"Ini akan berhasil," tambahnya. "Ini seperti permainan catur," imbuhnya.

Halaman 3 dari 3
(rdp/rdp)


Berita Terkait