Hampir 100 Orang Tewas dalam Banjir Terburuk di India

Hampir 100 Orang Tewas dalam Banjir Terburuk di India

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2026 12:43 WIB
Banjir di India menewaskan hampir 100 orang (Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis)
Banjir di India menewaskan hampir 100 orang (Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis)
Jakarta -

Hampir 100 orang tewas akibat bencana banjir di wilayah India timur laut. Desa-desa terkubur dalam lumpur setelah banjir dahsyat di negara bagian Assam, banjir terburuk dalam beberapa tahun terakhir tersebut.

Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (8/8/2026), setidaknya 97 orang tewas dalam banjir di Assam yang telah berdampak pada hampir 170.000 orang, termasuk ribuan orang yang terpaksa mengungsi sementara karena sungai yang meluap membanjiri rumah dan lahan pertanian.

Air banjir telah menenggelamkan lebih dari 14.000 hektar lahan pertanian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang jurnalis AFP melihat rumah-rumah yang setengah terendam, pohon-pohon yang tumbang, dan kendaraan yang terkubur di bawah lumpur di seluruh distrik Sivasagar yang paling parah terkena dampak.

Ketua Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, mengunggah video pada hari Jumat, yang memperlihatkan dirinya menghibur orang tua seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang meninggal saat mencoba menyelamatkan anjing peliharaannya dari banjir.

"Tidak ada orang tua yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada anak mereka," tulisnya.

Menteri Kesehatan India, J.P. Nadda, yang mengunjungi wilayah yang dilanda banjir pada hari Kamis lalu, mengatakan skala kehancurannya "sangat besar sehingga akan membutuhkan waktu" untuk memulihkan keadaan.

"Desa demi desa telah terendam," katanya kepada wartawan.

Banjir sering terjadi di Assam selama musim hujan Juni-September karena Sungai Brahmaputra -- sungai terbesar di India -- dan banyak anak sungainya meluap.

Namun, para ahli mengatakan bahwa perubahan iklim, ditambah dengan pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik, telah meningkatkan frekuensi, keparahan, dan dampak bencana alam tersebut.

Warga dan pejabat menyalahkan penambangan batubara ilegal di negara bagian Nagaland yang bertetangga atas memburuknya banjir. Disebutkan bahwa penambangan itu telah berdampak pada daerah-daerah yang secara historis tidak rawan banjir.

Kelompok advokasi Climate Trends mengatakan peningkatan keparahan banjir di negara bagian tersebut "disebabkan oleh interaksi pemanasan global, perubahan dinamika sungai, dan meningkatnya paparan manusia, yang membuat banjir lebih sering terjadi, lebih kompleks, dan lebih parah".

Tonton juga video "Hujan Deras Guyur Bogor, Jalan Raya Kapten Yusuf Sempat Banjir"

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait