Korea Utara (Korut) terdeteksi menembakkan proyektil tak teridentifikasi pada Kamis (6/8) waktu setempat. Proyektil tersebut jatuh ke lautan di sebelah timur Semenanjung Korea.
Aktivitas peluncuran terbaru Korut itu, seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (6/8/2026), dilaporkan oleh kedua negara tetangganya, Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Dengan otoritas Tokyo menduga Pyongyang telah menembakkan serbuan rudal balistik.
"Korea Utara menembakkan proyektil tak dikenal ke arah Laut Timur," demikian pernyataan Kepala Staf Gabungan Korsel dalam pernyataannya, merujuk pada perairan yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peluncuran terbaru ini terjadi sehari setelah Pyongyang menuduh Jepang sedang melakukan "transformasi menjadi negara perang" seiring langkah negara itu memperkuat postur militernya di kawasan Pasifik.
"Sesuatu yang mungkin merupakan sebuah rudal balistik telah diluncurkan dari Korea Utara," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Jepang via media sosial X.
Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengatakan pekan ini bahwa militer negaranya perlu diperkuat dengan "rasa urgensi dan krisis". Hal ini disampaikan setelah penilaian pemerintah yang baru dirilis mengulas soal ancaman yang semakin meningkat dari China, Rusia, dan Korut.
Menanggapi hal itu, Kim Yo Jong, adik pemimpin Korut Kim Jong Un, menegaskan bahwa "pimpinan" Pyongyang akan menyiapkan opsi-opsi militer tambahan sebagai respons yang jelas terhadap perubahan sikap Jepang.
Sepanjang tahun ini, Korut melakukan serangkaian uji coba persenjataan, termasuk rudal balistik jarak pendek, roket artileri, dan senjata taktis lainnya yang dirancang untuk memperkuat kemampuan militer negara yang terisolasi tersebut.
Uji coba terbaru yang telah dikonfirmasi, yang digelar pada akhir Juni, menurut laporan media pemerintah Korut KCNA, melibatkan sistem peluncur roket multiple 240 mm yang telah ditingkatkan, rudal balistik taktis, dan howitzer jenis self-propelled 155 mm.










































