Trump Ancam Serang Iran Besar-besaran Jika Hormuz Tak Dibuka Segera

Trump Ancam Serang Iran Besar-besaran Jika Hormuz Tak Dibuka Segera

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 05 Agu 2026 11:17 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: REUTERS/Daniel Heuer)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: REUTERS/Daniel Heuer)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka "segera". Trump mengancam bahwa Iran akan "dihantam sangat keras" jika selat vital tersebut tidak dibuka.

"Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat baik," kata Trump kepada media Fox News selama kunjungannya ke California. Dia menegaskan bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik selama berbulan-bulan.

"Selat akan segera dibuka, atau mereka akan dihantam sangat keras dan kemudian Selat akan dibuka," kata Trump, dilansir kantor berita AFP, Rabu (5/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami akan [melakukan] serangan besar-besaran, yang terbesar sejak Perang Dunia II," tambahnya.

"Lalu mereka menelepon saya dan berkata dengan sangat sopan, 'Tolong, bisakah kita bicara? Bisakah kita bicara?'"

"Dan saya berkata, 'Ya, kita bisa bicara. Mari kita selesaikan, akhirnya. Mari kita selesaikan," cetus Trump.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS dapat mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz pada hari Rabu (5/8) waktu setempat. Menurutnya, kesepakatan tersebut akan menstabilkan harga energi.

"Kami sedang bernegosiasi dengan Iran, dan saya pikir ada kemungkinan kami dapat mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat dan bergerak menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini," kata Bessent pada hari Selasa (4/8) dalam sebuah wawancara dengan CNBC.

Bessent optimistis tentang dampak kesepakatan dengan Iran mengenai selat tersebut terhadap harga energi. Ia mengatakan ratusan kapal sedang menunggu untuk berlayar.

"Meskipun situasinya masih agak genting dalam beberapa hari terakhir, kami telah melihat cukup banyak kapal yang berlayar bahkan sekarang," kata Bessent.

"Jadi, saya memperkirakan harga energi akan kembali stabil, yang, seperti yang saya katakan, akan baik untuk seluruh dunia," imbuhnya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah bahwa negosiasi dengan Washington sedang berlangsung. Hal ini disampaikan pada hari Selasa (4/8) seiring sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal kargo di Selat Hormuz, titik ketegangan utama dalam konflik AS-Iran.

Tonton juga video "Trump Beri Peringatan Terakhir untuk Iran Sebelum 'Dipenggal'"

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait