Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran akan mempertahankan wilayahnya. Namun, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak berniat melanjutkan atau memperluas perang.
"Konflik, baik di area sekitar, kota, negara, maupun antar negara, merupakan penyakit yang muncul," ucap Pezeshkian saat berbicara kepada media pemerintah Iran, seperti dilansir Iran Internasional, Selasa (4/8/2026).
"Kami akan mempertahankan perbatasan kami, namun kami tidak berniat memperluas perang ataupun melanjutkannya," tegas Presiden Iran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pezeshkian mengaitkan keamanan nasional Iran dengan kohesi domestik, dan berargumen bahwa mengatasi perpecahan internal dalam membantu mencegah campur tangan asing.
"Di tengah situasi ini, kita harus berupaya membangun masyarakat yang sehat, agar musuh tidak tergoda untuk menyusup, merusak tatanan sosial kita, dan menghancurkannya," cetusnya.
Sementara itu, dalam cuplikan wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Pezeshkian membantah laporan yang menyebut dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya. Dia berjanji untuk tetap menjabat sebagai Presiden Iran.
"Kami berkoordinasi sepenuhnya dengan pasukan militer. Saya tidak akan mundur, dan saya akan tetap teguh," kata Pezeshkian dalam wawancara tersebut.
"Jika saya mundur, saya akan mengumumkannya secara resmi," imbuhnya.
Bantahan ini disampaikan setelah pernyataan seorang ulama senior Iran, Mohammed-Bagher Kharrazi, yang mengungkapkan informasi lingkaran dalam bahwa Pezeshkian telah mengancam akan mundur "sebanyak 28 kali".
Laporan Iran Internasional pada Mei lalu menyebutkan bahwa Pezeshkian telah menyerahkan surat pengunduran diri kepada kantor Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Alasan Pezeshkian mundur disebut karena dia merasa pemerintahannya tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting dan kelompok garis keras Iran telah mengambil alih kendali urusan pemerintahan. Pada saat itu, otoritas Iran membantah adanya surat pengunduran diri Pezeshkian tersebut.
Iran terlibat perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari. Pertempuran sempat terhenti saat gencatan senjata awal disepakati pada April lalu, sebelum Teheran dan Washington kembali saling melancarkan serangan. Situasi beberapa kali mereda, namun kembali memanas dan pertempuran berkobar kembali.
Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan militer AS terhadap Iran, yang dilaporkan akan dilancarkan bersama-sama dengan Israel. Trump mengklaim dirinya "diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya" untuk menunda serangan.
Namun, Teheran membantah telah meminta Trump untuk membatalkan rencana serangan. Iran juga membantah klaim Trump soal sedang berlangsungnya negosiasi antara kedua negara.
"Kami tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers.
Tonton juga video "Iran Siapkan Rute Aman Pelayaran di Selat Hormuz untuk Oman"










































