Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan penolakannya terhadap kesepakatan terbaru Gaza dalam pertemuan dengan perwakilan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan menghentikan serangan militer dan tidak akan menarik pasukannya dari posisi-posisi di Jalur Gaza, sebagaimana diatur dalam rencana perdamaian yang diusulkan Trump.
Menurut laporan surat kabar Israel Hayom yang mengutip sumber Israel tanpa menyebut nama, penolakan itu disampaikan Netanyahu dalam pertemuan dengan utusan utama Dewan Perdamaian untuk urusan Gaza, Nickolay Mladenov, pada Senin (3/8) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Israel tidak akan menarik pasukannya dari posisi-posisi yang dikuasainya di Gaza, dan tidak akan melakukan gencatan senjata," tegas Netanyahu kepada Mladenov dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip Israel Hayom dalam laporannya, dilansir Anadolu Agency dan TRT World, Selasa (4/8/2026).
"Hamas terus membangun kembali kemampuan militernya dan menjadi ancaman langsung bagi militer Israel dan masyarakat di sekitar Gaza," klaim PM Israel tersebut.
Laporan Israel Hayom juga menyebutkan bahwa Dewan Keamanan Nasional Israel sebelumnya telah menyampaikan keberatan Netanyahu terhadap ketentuan dalam rencana gencatan senjata Gaza kepada Dewan Perdamaian dan tim kepresidenan Trump.
Dewan Perdamaian dan Trump pada Jumat (31/7) pekan lalu, mengumumkan kesepakatan untuk melaksanakan tahap berikutnya dari gencatan senjata Gaza. Dalam pernyataan pada saat itu, Dewan Perdamaian menyebut kelompok Hamas telah menyetujui kesepakatan tersebut, yang mencakup roadmap terperinci.
Roadmap yang dimaksud mencakup pengaturan keamanan, administratif, dan transisi di Jalur Gaza, serta usulan jalur politik.
Diatur juga soal perlucutan senjata Hamas -- yang disebut oleh Hamas sebagai pengumpulan senjata berat tanpa keterlibatan Israel -- dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza. Kedua ketentuan itu disebut saling berkaitan, dengan pelaksanaannya bergantung pada kepatuhan kedua pihak.
Militer Israel Ngotot Pertahankan Kebebasan Operasi di Gaza
Menanggapi pengumuman itu, militer Israel bersikeras mempertahankan kebebasan operasional di Gaza dan perlucutan senjata Hamas. Militer Israel juga disebut telah menetapkan tiga "garis merah" terkait kerangka kerja yang memuat 15 poin tersebut.
Para pejabat senior Israel, berdasarkan laporan televisi Israel KAN, akan memaparkan tuntutan-tuntutan tersebut dalam pembicaraan dengan Kepala Staf Israel Eyal Zamir pada Rabu (5/8) besok. Tuntutan pertama menyerukan "kebebasan penuh untuk bertindak guna melenyapkan ancaman" di Gaza.
Militer Israel juga menuntut kendali atas persenjataan di Gaza. Dalam tuntutan lainnya, militer Israel menentang penarikan pasukan secara parsial atau bertahap, kecuali "jika Hamas dilucuti senjatanya sepenuhnya".
Lihat juga Video: PBB Kutuk Pembunuhan Warga Sipil di Gaza, Tegaskan Faskes Haram Disasar!










































