Ketegangan diplomatik akibat ribuan migran ilegal dari Maroko menyerbu wilayah kantong Spanyol, Ceuta, semakin menjadi-jadi. Politikus Spanyol menuding ada keterlibatan Amerika Serikat dan Israel di balik masalah itu.
Dilansir Anadolu Agency dan The Times of Israel, Minggu (2/8/2026), tudingan itu mencuat usai Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dan Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, saling melontarkan sindiran terkait masalah migrasi ilegal di Ceuta. Hubungan Spanyol dan Israel memang sedang panas terkait masalah Gaza, Palestina.
Danon menuduh Spanyol telah berulang kali mengkritik Israel. Dia menyebut Spanyol kini mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta terkait krisis migrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Spanyol, yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggurui Israel, telah mendeklarasikan keadaan darurat di Ceuta menyusul krisis terkait kebijakan imigrasinya," tulis Danon di X.
"Mungkin sebelum terus menggurui kita, sudah saatnya mereka menjelaskan kepada dunia mengapa mereka masih mempertahankan kantong-kantong kolonial di Afrika," tambahnya, merujuk pada wilayah Spanyol Ceuta dan Melilla di pantai Mediterania Maroko.
Puente menanggapi tulisan Danon di X dengan menulis 'Yah, semuanya tampaknya menjadi cukup jelas'.
Meskipun menteri tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut, pernyataannya secara luas ditafsirkan sebagai tanggapan terhadap kritik Danon dan muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Spanyol tentang krisis migrasi dan peran Israel dalam politik regional. Mantan anggota parlemen Madrid yang kini Pengamat Politik di Spanyol, Carolina Alonso, menuduh Israel berusaha untuk melemahkan pemerintah Spanyol sebagai pembalasan atas sikap Madrid terhadap perang di Gaza.
Alonso juga membagikan unggahan tentang seruan beberapa politisi Italia untuk menangguhkan keanggotaan Spanyol dari wilayah Schengen. Alonso mengklaim upaya tersebut dilakukan 'melalui Maroko, dengan dukungan Israel' serta sayap kanan Spanyol dan Eropa.
Dia juga mengungkit kunjungan PM Spanyol Pedro Sanchez baru-baru ini ke Aljazair. Kunjungan Sanchez itu merupakan yang pertama dalam 4 tahun setelah hubungan memburuk pada tahun 2022 ketika Spanyol meninggalkan netralitasnya yang telah lama dipegang mengenai Sahara Barat dan mendukung klaim kedaulatan Maroko atas wilayah yang disengketakan tersebut.
Alonso juga menuduh Amerika Serikat berupaya melemahkan pemerintah Spanyol untuk memperluas pengaruhnya atas Selat Gibraltar dengan alasan bahwa krisis migrasi telah menjadi bagian dari perjuangan geopolitik yang lebih luas. Perdebatan juga melibatkan anggota parlemen Spanyol Gabriel Rufiรกn yang merupakan juru bicara parlemen untuk Partai Kiri Republik Catalonia (ERC).
Dia menggemakan klaim di media sosial bahwa krisis migrasi itu melayani kepentingan AS dan Israel. Dia menyerukan konsensus nasional yang luas mengenai masalah ini, alih-alih konfrontasi politik partisan.
Hubungan antara Spanyol dan Israel telah memburuk tajam sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023. Spanyol termasuk di antara negara-negara Eropa yang paling kritis terhadap kampanye militer Israel, mengakui Negara Palestina pada Mei 2024, dan telah berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dan akses kemanusiaan yang lebih besar ke Gaza.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Spanyol, Dana Erlich, mengatakan dirinya memantau situasi di Ceuta. Dia menyebut komentar Danon tidak mewakili Israel.
"Komentar yang dibuat oleh Duta Besar Israel untuk PBB mengenai masalah ini tidak mewakili posisi Negara Israel," tulis Erlich.
Lihat juga Video: Polisi Kewalahan! Ribuan Migran Maroko Serbu Perbatasan Spanyol










































