57 Orang Tewas, Migran Ilegal Balik ke Maroko Usai Serbu Kota Otonom Spanyol

57 Orang Tewas, Migran Ilegal Balik ke Maroko Usai Serbu Kota Otonom Spanyol

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 01 Agu 2026 09:59 WIB
Para migran ilegal dari Maroko nekat berenang untuk menyeberangi perbatasan Ceuta, kota otonom Spanyol, di Afrika Utara (REUTERS/Fabian Bimmer)
Para migran ilegal dari Maroko nekat berenang untuk menyeberangi perbatasan Ceuta, kota otonom Spanyol, di Afrika Utara (REUTERS/Fabian Bimmer) Foto: REUTERS/Fabian Bimmer
Ceuta -

Otoritas Spanyol mengumumkan bahwa sebagian besar migran ilegal yang menyerbu Ceuta, kota otonom Spanyol di Afrika Utara, telah kembali ke wilayah Maroko. Korban tewas dalam insiden penyerbuan yang diwarnai bentrokan dan desak-desakan ini bertambah menjadi sedikitnya 57 orang.

Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika, atau di sebelah utara Maroko. Bersama dengan kota Melilla, Ceuta menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika.

Kedua kota itu secara berkala mengalami lonjakan upaya penyeberangan ilegal oleh para migran yang ingin masuk ke Eropa. Namun insiden penyerbuan pekan ini melibatkan gelombang migran ilegal dalam jumlah sangat besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Otoritas Spanyol, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Sabtu (1/8/2026), mengatakan bahwa sebagian besar dari lebih dari 50.000 migran ilegal yang dalam beberapa hari terakhir nekat menyeberangi perbatasan melalui jalur darat dan jalur laut, kini telah kembali ke asal mereka secara sukarela.

Perwakilan pemerintah Spanyol di Ceuta melaporkan bahwa sedikitnya 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol, dan kemungkinan terdapat korban jiwa tambahan di sisi perbatasan Maroko.

Otoritas setempat menyebutkan bahwa beberapa orang diduga tewas tenggelam saat nekat berenang untuk mencapai area Ceuta dari Maroko, dan sebagian lainnya tewas akibat terhimpit saat berusaha memanjat bebatuan pemecah gelombang yang menjadi lokasi pagar perbatasan.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyebutkan bahwa sekitar 50.000 orang telah menyeberangi perbatasan secara ilegal sejak Kamis (30/7) pagi, dan memperkirakan bahwa sebanyak 48.300 orang di antaranya telah kembali ke wilayah Maroko pada Jumat (31/7) petang, pukul 18.00 waktu setempat.

Kepala pemerintah daerah Ceuta, Juan Jesus Vivas, secara terpisah melaporkan bahwa 60.000 orang telah menerobos masuk secara ilegal selama beberapa hari.

"Tidak mungkin bepergian dari Ceuta dan Melilla ke daratan utama Spanyol tanpa menunjukkan identitas diri di pos pemeriksaan polisi. Integritas Wilayah Schengen terjamin sepenuhnya. Cukup dengan penyebaran informasi keliru yang disengaja," tegas Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares.

Alasan di balik lonjakan mendadak aliran migran ilegal ke Ceuta ini belum diketahui secara jelas.

Namun para politisi oposisi Spanyol dan Eropa, seperti dilansir Forbes dan The Guardian, merujuk pada sikap pro-imigrasi dari Perdana Menteri (PM) Pedro Sanchez sebagai alasan lonjakan itu.

Mereka menyalahkan kebijakan imigrasi Spanyol yang dinilai longgar, terutama kebijakan pemerintahan Sanchez pada awal tahun ini yang memberikan status hukum kepada sekitar 500.000 imigran tanpa dokumen resmi di Spanyol.

Sementara itu, sejumlah sumber pemerintah Maroko mengaitkan lonjakan itu dengan "organisasi kriminal" yang marak di negara tersebut.

Sanchez telah mengunjungi langsung Ceuta pada Jumat (31/7) dan disambut cemoohan para demonstran. Dia menegaskan bahwa aksi penyeberangan massal tersebut merupakan "pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol".

Dikatakan Sanchez bahwa otoritas terkait sedang mempercepat pemulangan orang-orang yang masuk secara ilegal, dengan kerja sama penuh dari Maroko.

Tonton juga video "Polisi Kewalahan! Ribuan Migran Maroko Serbu Perbatasan Spanyol"

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini