Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghantam Iran dengan "sangat keras", saat pertempuran di kawasan Timur Tengah kembali berkobar menyusul penangguhan serangan oleh kedua negara yang hanya berlangsung singkat.
Trump, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (1/8/2026), juga menegaskan tekadnya untuk memenangkan perang melawan Iran, yang dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
"Kita hanya ingin menang. Kita melakukannya dengan sangat baik. Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan," kata Trump saat memimpin rapat kabinet di Camp David, kompleks peristirahatan kepresidenan di Maryland, pada Jumat (31/7) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," ucap Presiden AS itu.
"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," tegas Trump dalam rapat kabinet tersebut.
Ancaman terbaru itu dilontarkan saat media-media AS melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang diperkirakan terjadi paling cepat akhir pekan ini, termasuk terhadap target-target infrastruktur energi Teheran.
Selama lebih dari lima bulan perang berkecamuk, konflik ini tampaknya belum akan berakhir, terutama sejak kembali berlanjutnya aksi saling serang.
Dalam pernyataannya, Trump juga menepis laporan-laporan yang menyebutkan bahwa Iran masih berada dalam posisi yang kuat.
"Kondisi Iran sangat buruk. Mereka sangat tidak jujur. Mereka sangat tidak terhormat dalam urusan ini," sebutnya.
Media AS Laporkan Trump Menimbang Serangan Besar-besaran ke Iran
Laporan media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), yang mengutip sejumlah pejabat Washington yang tidak disebut namanya, menyebut bahwa Trump telah memerintahkan serangan terbaru yang bertujuan meyakinkan Iran untuk menyerah. Disebutkan bahwa serangan baru AS itu dapat dimulai paling cepat akhir pekan ini.
Sementara media AS lainnya, CBS News, melaporkan bahwa Washington dan Tel Aviv sedang merencanakan serangan gabungan terhadap target-target Teheran terkait energi, yang kemungkinan akan dilancarkan pada akhir pekan. Target-target tersebut kemungkinan besar mencakup kilang minyak dan pembangkit listrik.
Trump telah berulang kali mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran. Pekan lalu, Presiden AS itu bersumpah akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, setiap kali kapal-kapal di Selat Hormuz diserang.
Menurut laporan CBS News yang mengutip sejumlah sumber anonim, Trump belum memberikan lampu hijau untuk operasi tersebut. Namun demikian, AS dan Israel disebut terus melakukan koordinasi.
Jika rencana serangan itu benar-benar dilaksanakan, maka ini akan menjadi pertama kalinya Israel kembali menyerang Iran sejak gencatan senjata awal diberlakukan pada April lalu.










































