AS dan Arab Saudi Makin Mesra Bahas Nuklir

AS dan Arab Saudi Makin Mesra Bahas Nuklir

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jul 2026 22:23 WIB
Saudi and US flags flutter on a main road in Riyadh on May 12, 2025. (AFP)
Bendera Arab Saudi dan bendera AS (Foto: dok. AFP)
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi makin mesra membahas soal kesepakatan nuklir. Kedua negara segera mengumumkan kesepakatan tersebut.

Dilansir Kantor Berita AFP, hal ini akan diumumkan pada hari Rabu (22/7/2026) waktu setempat, di tengah pertempuran yang kembali memanas antara raksasa minyak Teluk tersebut dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, media terkemuka AS, New York Times melaporkan pada hari Selasa (21/7) waktu setempat, bahwa pemerintahan Trump berencana untuk secara resmi menandatangani dan mengumumkan kesepakatan dengan Arab Saudi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan itu akan memberikan miliaran dolar untuk industri nuklir AS.

Sebuah ketentuan dalam kesepakatan tersebut, yang akan berlangsung selama 30 tahun, akan mengharuskan perusahaan-perusahaan Amerika untuk membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi, jika studi bersama menyimpulkan bahwa hal itu diperlukan, demikian laporan media Wall Street Journal.

Namun, beberapa anggota parlemen AS dari kedua partai dan pejabat-pejabat Israel telah menyuarakan penentangan terhadap proyek nuklir sipil untuk Arab Saudi tersebut. Sebabnya, mereka khawatir bahwa proyek tersebut pada akhirnya dapat diubah untuk mengembangkan senjata nuklir.

Kesepakatan tersebut diperkirakan akan diajukan ke Kongres AS dalam beberapa hari mendatang. Namun, hal itu hanya formalitas belaka mengingat persetujuan Kongres tidak diperlukan agar kesepakatan tersebut dapat disahkan.

Dengan kembali berkobarnya pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran, sekutu Iran di Yaman, pemberontak Houthi, mengancam akan memperluas perang minggu ini. Houthi telah mengumumkan bahwa mereka akan memblokade pelabuhan-pelabuhan Saudi.

Arab Saudi dan Houthi saling baku tembak minggu lalu untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, mengancam keberlangsungan gencatan senjata sejak tahun 2022.

Saudi Beli Senjata AS

Pada Rabu (15/7) minggu lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui penjualan senjata senilai US$1,96 miliar (sekitar Rp 33,5 triliun) untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi.

"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan Sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Kawasan Teluk," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah rilis, dilansir kantor berita AFP, Kamis (16/7/2026).

Di antara senjata yang diinginkan Saudi tersebut adalah hingga 20.000 Sistem Senjata Pembunuh Presisi Canggih (Advanced Precision Kill Weapon Systems) dan hulu ledaknya, yang oleh situs web Angkatan Laut AS digambarkan sebagai "cara yang murah untuk menghancurkan target sambil membatasi kerusakan tambahan dalam pertempuran jarak dekat."

Kontraktor utama adalah BAE Systems di Nashua, New Jersey.

"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, dan pasukan regional dan NATO lainnya," kata rilis Deplu AS tersebut.

Tonton juga video "Trump Minta Buka Lagi Penerbangan Langsung AS-Lebanon Usai 40 Tahun DIsetop"

Halaman 3 dari 2
(lir/aik)


Berita Terkait