Aksi Partai Kecoak Turun ke Jalan Tuntut Menteri India Mundur

Aksi Partai Kecoak Turun ke Jalan Tuntut Menteri India Mundur

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 22 Jul 2026 06:02 WIB
People gather for a protest march on the day supporters of Indias Cockroach Janta Party demonstrate on the opening day of the Indian parliaments monsoon session, demanding the resignation of Education Minister Dharmendra Pradhan over exam paper lea
Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis
Jakarta -

Partai Kecoak yang terbentuk dari respons satire atas komentar pejabat India yang menyindir para pemuda kini bergerak hingga ke jalanan. Partai bergambar kecoak itu bahkan menggelar aksi untuk menuntut mundur salah satu menteri di India.

Berdasarkan rangkuman detikcom, Rabu (22/7/2026), Partai Kecoak diinisiasi oleh seorang pria bernama Abhijeet Dipke (30). Idenya pria lulusan jurusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston di Amerika Serikat ini muncul sebagai respons atas ucapan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Mei 2026 lalu, Surya Kant memang sempat mengatakan dalam sidang terbuka bahwa "parasit" tengah menyerang sistem. Dia kemudian menyamakan kaum muda dengan kecoak "yang tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki tempat dalam profesi apa pun".

"Ada kaum muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang," katanya.

Sindiran itu lantas direspons Abhijeet Dipke dengan membentuk Partai Janta Kecoak ("janta" berarti rakyat dalam bahasa Hindi). Partai tersebut pun semakin besar setelah diikuti oleh banyak muda India di media sosial.

Mulai Gelar Aksi

Tak berhenti sampai di situ, partai tersebut kini menggerakkan massa untuk berdemonstrasi menuntut salah satu menteri mundur. Gerakan tersebut dimulai pada 6 Juni 2026 atau bertepatan Abhijeet Dipke pulang ke India usai menyelesaikan studi di AS.

Dia langsung menuju kawasan Jantar Mantar di New Delhi yang menjadi tempat CJP menggalang aksi unjuk rasa perdananya. Dalam momen itu, mereka menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal, Dharmendra Pradhan, atas dugaan kegagalan dalam mencegah kebocoran soal ujian dan penyimpangan lain dalam ujian-ujian penting yang diikuti oleh kaum muda.

Meski demikian, ada pihak yang menyebut unjuk rasa di New Delhi sebagai 'sedikit antiklimaks' karena diikuti kurang dari 2.000 orang. Dalam demo itu, Dipke mendesak Pradhan untuk mengundurkan diri paling lambat pukul 17.00 pada hari itu.

"Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan," tulis Dipke pada laman X, 7 Juni.

Saurav Das, juru bicara CJP, mengatakan aksi unjuk rasa di New Delhi itu berhasil menarik perhatian. Dia mengatakan CJP yang bukan organisasi resmi dan baru sebulan dibentuk telah membuat massa bergerak.

"Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah," ujarnya.

Partai Kecoak Terus Desak Menteri Pendidikan India Mundur

Sebulan berlalu, gerakan Partai Kecoak tidak padam. Partai tersebut terus melanjutkan unjuk rasa hingga Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri.

Ribuan demonstran berkumpul di pusat ibu kota India pada Senin (20/7) untuk menuntut pengunduran diri Pradhan dan reformasi ujian yang lebih luas. Aksi protes ini menjadi wujud unjuk kekuatan oleh gerakan online Cockroach Janta Party (CJP) yang kini sangat populer di India.

CJP telah meraih jutaan pengikut di media sosial sejak gerakan itu diluncurkan pada Mei lalu. Gerakan ini memberikan salah satu tantangan terbesar bagi Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi yang berhaluan nasionalis Hindu, sejak dia memenangkan masa jabatan ketiganya pada tahun 2024.

"Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot," tegas perwakilan CJP, Ashutosh Ranka, dalam pernyataan terbaru via media sosial, seperti dilansir AFP, Selasa (21/7/2026).

Ratusan demonstran masih berkemah di lokasi unjuk rasa di area Jantar Mantar pada Selasa (21/7) waktu setempat, dengan banyak di antara mereka menyerukan perubahan lebih luas dalam sistem pendidikan di negara tersebut.

Lihat juga Video: Demo Partai Kecoak di India Ricuh, Polisi Lepaskan Gas Air Mata

Halaman 2 dari 3
(maa/fas)


Berita Terkait