Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara keliru menyebut Iran sebagai "Republik Islam Jepang" saat membahas serangan rudal Teheran ke arah kapal induk AS. Teheran menantang Washington untuk melancarkan serangan darat terhadap negaranya, setelah Trump mengumumkan gencatan senjata berakhir.
Insiden salah ucap itu terjadi dalam konferensi pers bersama Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Rabu (8/7) di sela-sela KTT NATO di Turki. Dalam sesi yang sama, Trump juga keliru menyebut Zelensky, yang duduk di sebelahnya, sebagai Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sementara itu, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, menantang pasukan AS untuk datang ke daratan Iran. Dia menegaskan bahwa pasukan Iran akan mengubah wilayah pesisirnya menjadi "neraka" bagi pasukan AS jika mereka diperintahkan menyerang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (9/7/2026):
- Trump Salah Ucap, Sebut Iran 'Republik Islam Jepang'
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara keliru menyebut Iran sebagai "Republik Islam Jepang" saat membahas soal serangan rudal Teheran ke arah kapal induk AS beberapa bulan lalu.
Insiden salah ucap ini, seperti dilansir USA Today dan The Independent, Kamis (9/7/026), terjadi saat Trump menggelar konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Rabu (8/7), usai pertemuan keduanya di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.
Dalam sesi yang sama, Trump juga keliru menyebut Zelensky, yang duduk tepat di sebelahnya, sebagai Presiden Rusia Vladimir Putin, yang merupakan musuh bebuyutan Presiden Ukraina tersebut.
- Iran Usai Trump Akhiri Gencatan Senjata: Jika Punya Nyali, Silakan Datang
Seorang pejabat tinggi militer Iran menantang langsung Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan serangan darat terhadap negaranya, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata antara kedua negara berakhir.
Trump juga telah memerintahkan rentetan serangan terbaru menargetkan Iran pada Rabu (8/7) waktu setempat, sembari memperingatkan serangan yang berdampak "jauh lebih buruk" jika Teheran terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dan gas global.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya rentetan ledakan di sejumlah lokasi di sepanjang pesisir selatan Iran, setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan baru.
- Makin Panas, AS Gempur 90 Target Militer Iran dalam Serangan Terbaru
Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat, atau hari kedua saat kedua negara kembali terlibat pertempuran.
Washington, seperti dilansir AFP, Kamis (9/7/2026), mengatakan bahwa operasi militer terbarunya ini dimaksudkan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasional militer AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa pasukannya telah "menyelesaikan serangkaian serangan tambahan terhadap Iran" pada 8 Juli malam waktu Iran.
- Iran Gempur Pangkalan AS di Teluk, Sirene Meraung-raung di Kuwait-Bahrain
Sirene peringatan serangan udara meraung-raung di Kuwait dan Bahrain pada Kamis (9/7) waktu setempat, setelah Iran melancarkan pembalasan terhadap serangan terbaru Amerika Serikat (AS). Teheran mengancam akan memperluas serangan ke pangkalan lainnya di kawasan Teluk jika AS terus menyerang.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dilansir AFP, Kamis (9/7/2026), mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain sebagai tanggapan atas serangan terbaru AS.
IRGC, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran IRIB, menyatakan bahwa mereka menyerang "infrastruktur dan fasilitas utama" di pangkalan AS di Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain, dengan menggunakan rudal dan drone.
- Trump Ancam Pengeboman Lebih Parah Jika Iran Tak Setop Serangan di Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam pengeboman lebih parah terhadap Iran, jika negara itu terus menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dan gas global.
Ancaman itu disampaikan Trump setelah dia memerintahkan rentetan serangan terbaru menargetkan Iran pada Rabu (8/7) waktu setempat.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya rentetan ledakan di sejumlah lokasi di sepanjang pesisir selatan Iran, setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan gelombang serangan terbaru.
Simak Video 'Trump Rilis Statemen yang Bikin Iran AS Makin Mendidih':











































