Ancaman Neraka dari Iran untuk Amerika

Ancaman Neraka dari Iran untuk Amerika

Yulida Medistiara - detikNews
Senin, 29 Jun 2026 05:59 WIB
Iranian IRGC cadets attend the funeral of Razi Mousavi, a senior commander in the IRGCs Quds Force who was killed on December 25 in an Israeli strike in Syria, in Tehran, on December 28, 2023. (AFP)
Ilustrasi Pasukan Garda Revolusi Iran (Foto: dok. AFP)
Jakarta -

Militer Amerika Serikat melakukan serangan baru terhadap beberapa target di Iran sebagai tanggapan atas serangan baru Teheran terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Merespons serangan itu, Iran mengancam agresi lebih lanjut akan dibalas dengan 'tanggapan yang menghancurkan'.

Dirangkum detikcom dari AFP, CNN, Aljazeera, Senin (29/6/2026), saling serang antara Iran dan Amerika Serikat kembali terjadi usai AS menargetkan sejumlah titik di Iran atas tanggapan terhadap serangan Iran ke kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kedua pihak juga saling tuduh melanggar gencatan senjata.

Iran juga meluncurkan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan terbaru AS. Serangan ini memicu kecaman dari kedua negara teluk tersebut. Berikut ini rangkuman saling tuduh AS dan Iran terkait pelanggaran gencatan senjata tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Serang Sejumlah Titik di Iran

Militer AS mengatakan telah melakukan serangan baru terhadap beberapa target di Iran. Serangan itu sebagai tanggapan atas serangan baru terhadap sebuah kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Pasukan CENTCOM melancarkan serangan hari ini sebagai tanggapan langsung terhadap agresi Iran yang berkelanjutan terhadap pelayaran komersial," kata Komando Pusat AS.

Ditambahkan, Iran sebelumnya telah menyerang kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku, yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah.

Komando tersebut juga memposting melalui akun X-nya sebuah video buram berdurasi 35 detik, yang direkam dari udara, menunjukkan ledakan di berbagai lanskap.

"Pesawat tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS melakukan serangan malam ini terhadap 10 target militer Iran di beberapa lokasi di dalam dan dekat Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker Kiku," demikian bunyi unggahan tersebut.

Militer AS mengatakan respons terbaru tersebut menargetkan "infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau."

Iran Serang Fasilitas Militer AS di Bahrain-Kuwait

Merespons serangan terbaru AS tersebut, Garda Revolusi Iran melakukan serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu sebagai balasan atas serangan AS di wilayah Iran seraya memperingatkan agresi lebih lanjut akan dibalas dengan 'tanggapan yang menghancurkan'.

Dilansir AFP, Minggu (28/6/2026), Iran dan Amerika Serikat sama-sama menuduh pihak lainnya melanggar gencatan senjata yang rapuh. Tuduhan ini memperketat negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

"Garda Revolusi menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman di Bahrain," kata IRGC dalam sebuah pernyataan.

"Setiap agresi musuh, apa pun dalihnya, bahkan terhadap target yang tidak signifikan... akan dibalas dengan menghancurkan," imbuh pernyataan Garda Revolusi.


Bahrain Kutuk Serangan Iran

Kementerian Luar Negeri Bahrain mengecam keras serangan rudal balistik dan drone terbaru Iran. Bahrain mengatakan serangan tersebut melanggar kedaulatan negara.

Dilansir Aljazeera, Minggu (28/6/2026), dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Bahrain, Kementerian Luar Negeri bahrain mengatakan serangan tersebut juga merusak "peluang untuk de-eskalasi dan stabilitas di kawasan tersebut".

Kementerian Luar Negeri Bahrain juga menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas situasi tersebut dengan harapan "mengakhiri agresi yang sedang berlangsung dan meminta pertanggungjawaban para pelakunya". Bahrain juga mengaskan pihaknya berhak mempertahankan kedaulatan.


Kuwait Kecam Serangan Iran ke Wilayahnya

Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan baru Iran di wilayahnya. Kuwait menilai serangan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya.

"Menyampaikan kecaman dan penolakan keras terhadap... terulangnya agresi keji Iran terhadap Negara Kuwait, yang terbaru terjadi pada subuh hari ini, sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya," kata Kementerian Luar Negeri Kuwait dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (28/6/2026).

Kementerian tersebut juga memperingatkan bahwa serangan semacam itu merusak upaya de-eskalasi regional dan global yang sedang berlangsung dan "merupakan tantangan langsung terhadap kemauan internasional yang mendukung jalan ini". Kementerian tersebut juga mengatakan bahwa negara Kuwait "berhak sepenuhnya untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatannya, menjaga keamanan dan stabilitasnya, serta melindungi rakyatnya dan penduduk di wilayahnya".

Iran Geram soal Serangan Baru AS

Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk dengan tegas serangan terbaru AS di pantai selatan negaranya. Iran menyebut serangan itu sebagai "serangan brutal" yang melanggar gencatan senjata dalam MoU.

Dilansir Aljazeera dan CNN, Minggu (28/6/2026), Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan serangan tersebut menunjukkan bahwa AS "sama sekali tidak menghargai komitmennya". Iran menambahkan bahwa "melanggar janji adalah bagian dari sifat rezim ini".

"Ini sekali lagi menunjukkan bahwa rezim AS tidak menghargai komitmennya dan bahwa mengingkari janji adalah bagian dari sifat rezim ini," demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran


Menlu Iran Beri Peringatan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa setiap upaya mengubah atau mengadopsi aturan baru terkait Selat Hormuz selain yang telah disepakati Iran akan meningkatkan ketegangan. Menurut Iran setiap upaya tersebut akan menimbulkan penundaan pembukaan Selat Hormuz.

"Setiap upaya untuk mengadopsi pengaturan baru atau terpisah dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Republik Islam Iran, hanya akan menyebabkan situasi yang lebih rumit dan penundaan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz, dan akan meningkatkan ketegangan, seperti yang kita saksikan dalam dua malam terakhir," kata Araghchi dalam konferensi pers, dilansir AFP, Minggu (28/6/2026).

Hal itu disampaikan Araghchi saat melakukan kunjungan ke ibu kota Irak, Baghdad. Araghchi juga menyerukan pembentukan kerangka kerja keamanan dengan negara-negara Teluk. Sementara Teheran dan Washington saling tuduh melanggar gencatan senjata yang rapuh yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah

"Kita harus mencapai kerangka kerja baru yang mencakup semua negara di kawasan ini dan tanpa kehadiran atau campur tangan negara mana pun dari luar kawasan," kata Abbas Araghchi dilansir Aljazeera.

Sementara itu sejumlah kapal terus menggunakan jalur yang tidak disetujui Iran di jalur perairan strategis tersebut, menurut platform pelacak pada hari Jumat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan sehari sebelumnya bahwa Oman dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengumumkan koridor baru tersebut tanpa berkonsultasi dengan Teheran, dan memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakannya.

Simak juga Video 'Trump Kecewa Gak Dibantu Lawan Iran, NATO: Situasinya Campur Aduk':
Halaman 3 dari 3
(yld/dek)


Berita Terkait