Imbas Panas Ekstrem, Prancis Matikan Reaktor Nuklir-Larang Konsumsi Miras

Imbas Panas Ekstrem, Prancis Matikan Reaktor Nuklir-Larang Konsumsi Miras

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 26 Jun 2026 10:51 WIB
Warga Prancis mendinginkan diri di air mancur di depan Menara Eiffel saat gelombang panas ekstrem melanda (REUTERS/Abdul Saboor)
Warga Prancis mendinginkan diri di air mancur di depan Menara Eiffel saat gelombang panas ekstrem melanda (REUTERS/Abdul Saboor)
Paris -

Otoritas Prancis mengambil langkah-langkah khusus dalam menghadapi gelombang panas ekstrem yang menyelimuti wilayahnya. Salah satunya dengan mematikan sejumlah reaktor nuklir sebagai langkah perlindungan lingkungan.

Penonaktifan reaktor nuklir dimaksudkan untuk menghindari pembuangan air panas dalam jumlah berlebih ke sungai-sungai yang suhunya sudah meningkat akibat suhu panas ekstrem.

Otoritas Paris juga memberlakukan larangan konsumsi minuman beralkohol atau minuman keras (miras), serta membatasi penjualannya, selama gelombang panas yang membuat rumah-rumah sakit setempat kewalahan menangani pasien.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan penyedia energi utama Prancis, EDF, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Jumat (26/6/2026), mengumumkan bahwa dua reaktor nuklir tambahan telah dimatikan pada Kamis (25/6) waktu setempat. Dengan demikian, total ada tiga reaktor nuklir Prancis yang telah dinonaktifkan imbas suhu panas ekstrem.

EDF mengatakan bahwa masing-masing satu reaktor pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bugey di Prancis bagian timur dan pada PLTN Nogent-sur-Seine di timur laut Paris telah dimatikan karena kondisi lingkungan.

Penonaktifan terbaru ini menyusul penghentian operasional sebuah reaktor nuklir di PLTN Golfech di Prancis barat daya pada Senin (22/6) waktu setempat. EDF juga mengumumkan bahwa produksi dari sebuah reaktor di PLTN Saint-Alban akan dikurangi.

PLTN yang vital bagi produksi listrik Prancis diketahui menggunakan air sungai untuk mendinginkan reaktor-reaktor, di mana proses ini memanaskan air yang kemudian dialirkan kembali ke sungai.

Langkah-langkah yang diambil EDF tersebut dimaksudkan untuk mematuhi peraturan lingkungan yang membatasi peningkatan suhu air sungai yang digunakan untuk mendinginkan fasilitas nuklir, demi melindungi ekosistem perairan.

Sebanyak 57 reaktor nuklir di Prancis tunduk pada ambang batas lingkungan yang ketat terkait suhu sungai di sekitarnya.

Sepanjang tahun lalu, PLTN menghasilkan hampir 70 persen kebutuhan listrik di Prancis. Operator jaringan listrik Prancis, RTE, mengatakan kepada AFP pada Rabu (24/6) bahwa: "Prancis memiliki kapasitas pembangkit yang memadai untuk memenuhi permintaan listrik, termasuk jika terjadi gangguan operasional pada fasilitas produksi tertentu."

Paris Larang Konsumsi-Penjualan Miras Saat Gelombang Panas

Tidak hanya mematikan reaktor nuklir, otoritas Prancis mengambil langkah tak biasa saat gelombang panas ekstrem menyelimuti negara tersebut. Konsumsi minuman beralkohol di tempat umum akan dilarang di ibu kota Paris mulai Jumat (26/6) waktu setempat. Penjualan minuman beralkohol juga ikut dibatasi.

Langkah ini, seperti dilansir AFP, dilakukan otoritas Prancis saat rumah-rumah sakit di dalam dan di sekitar Paris kewalahan menangani pasien di tengah gelombang panas yang memecahkan rekor suhu terpanas.

"Fasilitas rumah sakit kita telah mencapai titik jenuh," kata Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, dalam pernyataannya.

"Jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit terus meningkat. Saya harus memastikan tekanan tersebut berkurang," ujarnya.

Faure menuturkan bahwa konsumsi minuman beralkohol di jalanan dan tempat umum lainnya, serta penjualan minuman beralkohol untuk dibawa pulang, akan dilarang mulai Jumat (26/6) waktu setempat. Larangan itu diberlakukan untuk periode waktu mulai pukul 12.00 siang hingga pukul 07.00 keesokan harinya.

"Larangan ini tidak berlaku untuk area ruang publik yang biasanya digunakan oleh restoran dan bar yang memiliki izin resmi," demikian pernyataan Kepolisian Paris.

Sementara untuk penjualan minuman beralkohol yang dibawa pulang, akan dilarang mulai pukul 18.00 malam hingga pukul 07.00 pagi keesokan harinya.

"Larangan ini juga berlaku bagi toko-toko ritel yang secara eksklusif menjual minuman tersebut," imbuh pernyataan tersebut.

Simak juga Video 'Suhu Tembus 40,9'C, Turis Kelimpungan di Paris':

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini