Kecaman dari Partai Sendiri Usai Trump Teken Damai dengan Iran

Kecaman dari Partai Sendiri Usai Trump Teken Damai dengan Iran

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 20 Jun 2026 06:00 WIB
U.S. President Donald Trump speaks during a bilateral meeting with the President of the United Arab Emirates (UAE) Mohamed bin Zayed Al Nahyan, on the sidelines of the G7 summit, in Evian-les-Bains, France, June 16, 2026. REUTERS/Evelyn Hockstein
Foto: REUTERS/Evelyn Hockstein
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikecam partainya sendiri. Pasalnya, Trump telah menandatangani MoU damai dengan Iran.

Dirangkum detikcom, Sabtu (20/6/2026), MoU itu telah ditandatangani secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

MoU tersebut mengakhiri permusuhan secara permanen di semua front, termasuk Lebanon, dan memulai gencatan senjata selama 60 hari, juga mencabut blokade AS terhadap Iran, memulihkan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, membahas rencana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar, dan pencabutan sanksi AS.

Tidak hanya itu, MoU itu juga akan memungkinkan Teheran untuk bergabung kembali dalam perekonomian global, jika memenuhi komitmen yang ditentukan dalam kesepakatan tersebut.

Trump bersikeras menyebut MoU itu bukanlah cerminan kekuasaannya, melainkan langkah untuk menggerakkan pasokan minyak guna menghindari depresi global.

"Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan? Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia," sebutnya.

Partai Republik Marah

Ternyata, keputusan Trump berdamai dengan Iran disambut negatif oleh partainya. Sejumlah senator Partai Republik AS memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut jauh dari kemenangan besar yang dijanjikan Trump dan bisa membuat Teheran lebih kaya, lebih kuat, dan masih mampu mengancam kawasan tersebut.

Nota Kesepahaman (MoU), yang ditandatangani oleh Trump di Prancis pada Rabu (17/6) lalu, bertujuan untuk mengakhiri perang, membuka kembali Selat Hormuz yang vital, dan menstabilkan pasar energi setelah perang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Namun, ketentuan-ketentuan dalam MoU tersebut telah membuat khawatir beberapa anggota Partai Republik. Mereka mengkritik Trump yang mereka sebut menawarkan keringanan sanksi kepada Iran, akses ke pasar minyak, dan prospek dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar, tapi gagal mengamankan komitmen tegas tentang pengayaan uranium, rudal balistik, atau dukungan Teheran untuk proksi-proksi bersenjata.

Senator Republik, Bill Cassidy menyebut kesepakatan itu "kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade."

"Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup," tulisnya di media sosial X, dilansir kantor berita AFP, Jumat (19/6/2026). "Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga telah membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir telah berhenti."

Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat yang berpengaruh, menyebut MoU itu "sama sekali tidak sesuai" dengan tujuan Trump. Dia pun mengecam pencabutan sanksi dan pencairan dana "sebagai imbalan atas persetujuan Iran untuk bernegosiasi selama 60 hari lagi."

"Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran -- meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS -- akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan," katanya dalam sebuah pernyataan, mengacu ke perjanjian nuklir dengan Iran semasa pemerintahan Presiden AS Barack Obama.

Senator Texas, John Cornyn mengatakan kepada wartawan bahwa ia khawatir kesepakatan itu mungkin hanya "sekadar jeda," sehingga Iran dapat membangun kembali persenjataannya dan terus memperkaya uranium.

Adapun Partai Demokrat kompak menentang kesepakatan tersebut. Mereka berpendapat bahwa Trump melancarkan perang yang mahal hanya untuk menerima kesepakatan, yang sebagian besar mengembalikan status quo sebelum perang, sambil memberikan pengaruh baru kepada Teheran.

"Semua orang yang membeli bukunya Trump 'The Art of the Deal' seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah 'The Art of the Disaster'," cetus pemimpin Partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, dalam pidatonya di sidang pleno.

Trump sendiri membela kesepakatan itu sebagai cara praktis untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar seperlima minyak mentah global. Ia mengatakan kesepakatan itu belum final, dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat melanjutkan serangan jika negosiasi gagal.

Halaman 2 dari 3
(maa/maa)


Berita Terkait