Amerika Serikat (AS) memberi tekanan baru ke Iran di tengah perang. AS menutup hampir seluruh akses bagi operasi maskapai-maskapai Iran.
Dilansir Al Arabiya, Jumat (29/5/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan akan menutup akses maskapai-maskapai penerbangan Iran ke tempat-tempat pendaratan, pengisian bahan bakar, dan penjualan tiket.
Bessent menyebut langkah itu diambil saat Departemen Keuangan AS melanjutkan apa yang disebutnya sebagai 'kampanye kemarahan ekonomi terhadap rezim Iran'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentara-tentara mereka tidak dibayar, polisi tidak melapor untuk bekerja, dan Pulau Kharg ditutup," tulis Bessent dalam pernyataannya, merujuk pada pulau yang dikenal sebagai jantung perekonomian Iran, karena menjadi lokasi terminal ekspor minyak mentah utama negara tersebut.
Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap 'Otoritas Selat Teluk (Arab) milik Iran' yang disebutnya sebagai lelucon. Dia juga memperingatkan semua korporasi dan negara untuk tidak membayar tol kepada pihak Iran atau menyamarkannya sebagai bantuan.
"Kami telah memperingatkan entitas korporasi atau negara mana pun agar tidak membayar tol atau menyembunyikannya sebagai pembayaran bantuan," tegasnya.
Bessent juga menyinggung dampak blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dia menyebut hal itu telah memastikan 'jumlah minyak mentah Iran di lautan berada pada rekor terendah'.
"Kami juga akan menutup akses maskapai penerbangan Iran ke tempat-tempat pendaratan, pengisian bahan bakar, dan penjualan tiket," ucapnya.
Dia menyebut hanya kemajuan dalam negosiasi yang akan menghentikan tekanan terhadap dunia penerbangan Iran. Dia menyebut hasil memuaskan dalam negosiasi akan menurunkan tekanan dari AS.
"Hanya hasil yang memuaskan dalam negosiasi yang akan mengakhiri penurunan terus-menerus ini," katanya.
Namun, Bessent menyebut warga negara Iran yang ingin terbang ke Makkah atau Madinah di Arab Saudi untuk haji dan umrah dengan maskapai Iran tetap diizinkan. Dilansir AFP dan New York Post, Bessent mengatakan akan ada pengecualian terbatas untuk pergerakan terkait alasan keagamaan.
"Satu hal yang tidak akan kami lakukan adalah membatasi pergerakan karena alasan keagamaan, jadi warga Iran yang ingin melakukan ziarah ke Makkah atau Madinah akan diizinkan," tegas Bessent.
"Kami juga akan mengizinkan alasan kemanusiaan yang sah," imbuhnya.
Bessent tidak menyebut secara spesifik maskapai Iran yang menjadi target AS. Namun, maskapai penerbangan nasional Teheran, Iran Air, telah lama menjadi target sanksi Departemen Luar Negeri AS. Maskapai Mahan Air juga menjadi sasaran sanksi AS.
Dalam konferensi pers, Bessent juga menyebut maskapai penerbangan milik negara Iran sebagai 'pelanggar hukum'. Dia mengatakan siapa pun yang menerima maskapai Iran akan dijatuhi sanksi oleh AS.
"Ketika maskapai-maskapai ini terbang, mereka harus mengisi bahan bakar, mereka menjual tiket, mereka membayar biaya pendaratan. Siapa pun yang menerima hal-hal itu, akan kami beri sanksi," jelasnya.
"Jadi, mereka harus sangat jelas bahwa maskapai penerbangan milik negara Iran adalah pelanggar hukum dan tidak dapat melakukan hal ini," sebut Bessent.
Sanksi AS itu juga secara efektif memperingatkan perusahaan-perusahaan bahwa mereka dapat terputus dari sistem keuangan global jika tetap membayar pungutan tol kepada Iran.
Sebagai informasi, AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran lalu membalas dengan menyerang berbagai fasilitas militer AS di negara-negara Semenanjung Arab. Iran juga menyerang Israel dan pasukan AS yang dikerahkan di Timur Tengah.
Kini, AS dan Iran memang tengah berada dalam masa gencatan senjata. Namun, perundingan damai masih belum mencapai kesepakatan apapun untuk mengakhiri perang secara permanen. Saling serang juga masih terus terjadi.











































