Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyebut serangkaian kegagalan Amerika Serikat (AS) dalam menghormati komitmen menjadi sumber gangguan dalam perundingan damai yang dimediasi Pakistan. Araghchi juga menuduh AS mengajukan "tuntutan berlebihan" dalam negosiasi damai.
Hal tersebut, seperti dilansir Press TV dan AFP, Sabtu (23/5/2026), disampaikan Araghchi saat berbicara via telepon dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Jumat (22/5) waktu setempat.
Araghchi, dalam percakapan telepon dengan Guterres, mengatakan bahwa Iran tetap terlibat dalam proses diplomatik meskipun ada "sejarah kegagalan" dari AS.
Dia menyebutkan contoh-contoh paling mencolok dari "sejarah kegagalan" itu, yang mencakup "pengkhianatan diplomasi berulang kali dan agresi militer terhadap Iran, serta posisi yang kontradiktif dan tuntutan berlebihan yang berulang" oleh AS.
Bersama sekutunya Israel, AS melancarkan serangan terhadap Iran pada Juni 2025 dan pada 28 Februari lalu. Kedua serangan itu sama-sama terjadi ketika Washington sedang terlibat dalam proses diplomatik dengan Teheran.
Negosiasi yang dilakukan Iran dengan AS juga diwarnai banyak kasus, di mana Washington beralih di antara berbagai posisi atau menghadapi Teheran dengan tuntutan maksimalis seperti penghentian program nuklir dan peninjauan kembali program rudal balistik.
Araghchi menegaskan bahwa, meskipun sangat tidak mempercayai AS, Iran telah kembali memasuki proses diplomatik dengan serius dan dengan pendekatan yang bertanggung jawab, serta melakukan segala upaya untuk mencapai hasil yang wajar dan adil.
Guterres, dalam pernyataannya kepada Araghchi, menegaskan penolakan penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara. Sekjen PBB itu juga menekankan perlunya mematuhi prinsip-prinsip Piagam PBB dan menempuh jalur diplomatik untuk membangun perdamaian serta stabilitas di kawasan tersebut.
Sementara itu, panglima militer Pakistan, Asim Munir, tiba di Teheran pada Jumat (22/5) untuk bertemu Araghchi dan mendorong upaya perdamaian. Pertemuan keduanya, menurut kantor berita IRNA, berlangsung hingga larut malam, membahas "upaya dan inisiatif diplomatik terbaru yang bertujuan mencegah eskalasi lebih lanjut".
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam pernyataannya memperingatkan bahwa kunjungan tersebut bukan berarti "kita telah mencapai titik balik atau situasi yang menentukan" karena masih terdepat perbedaan.
Dia juga mengatakan bahwa Teheran belum dapat mengatakan jika kesepakatan dengan Washington sudah dekat.
"Prosesnya masih berlangsung. Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa perbedaan antara Iran dan Amerika Serikat sangat mendalam dan luar, terutama setelah kejahatan yang mereka lakukan selama dua atau tiga bulan terakhir," sebut Baghaei.
Namun, Baghaei menekankan bahwa kunjungan yang dilakukan oleh pejabat senior Pakistan ke Teheran menunjukkan jika mereka telah mencapai titik "penting".











































