Iran dan AS yang Belum Juga Akur

Iran dan AS yang Belum Juga Akur

Tim detikcom - detikNews
Senin, 18 Mei 2026 20:02 WIB
Iran dan AS yang Belum Juga Akur
Foto: Asap membubung usai serangan AS-Israel ke Teheran, Iran (AFP/ATTA KENARE)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan Iran belum juga berdamai. Terbaru, kedua negara masih saling ancam.

Dirangkum detikcom, Senin (18/5/2026), AS dan Israel meluncurkan serangan militer ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu telah menewaskan setidaknya 3.468 orang di Iran.

Serangan AS dan Israel itu juga menewaskan Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu merupakan Pemimpin tertinggi Iran. Pihak Iran langsung membalas serangan tersebut.

Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel, pasukan AS serta berbagai fasilitas AS di negara-negara Semenanjung Arab. AS dan Iran kemudian menyepakati gencatan senjata dan melakukan perundingan yang difasilitasi Pakistan.

Namun, perundingan itu gagal menghasilkan kesepakatan. Gencatan senjata itu masuk pada titik kritis.

Iran mengajukan syarat ke AS untuk memulai perundingan baru. Namun, syarat itu telah ditolak oleh Presiden AS Donald Trump. Pihak AS juga mengajukan syarat ke Iran yang juga ditolak oleh Iran.

Sementara itu, Iran dan AS sama-sama melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz. Saling ancam pun terus berlanjut.

Iran Ancam Ubah Teluk Oman Jadi Kuburan Kapal AS

Iran mengancam akan mengubah Teluk Oman, yang terletak di dekat Selat Hormuz, menjadi kuburan bagi kapal-kapal AS. Iran mendesak blokade laut yang diberlakukan oleh Washington segera diakhiri.

Teheran menegaskan akan menghadapi blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhannya Dilansir Anadolu Agency, ancaman itu dilontarkan oleh penasihat militer utama untuk pemimpin tertinggi Teheran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang juga anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran.

"Saran saya kepada AS secara militer adalah mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda," kata Rezaei dalam pernyataannya yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Minggu (17/5).

"Jika tidak, pemahaman kami adalah blokade laut merupakan tindakan perang, dan menanggapinya adalah hak natural kami," tegasnya.

Rezaei mengatakan sikap menahan diri oleh Iran tidak boleh diartikan sebagai penerimaan terhadap tekanan atau ancaman. Dia mempertanyakan alasan di balik keberadaan militer AS yang berkelanjutan di kawasan Teluk.

"Jika kami telah bersabar sampai sekarang, itu tidak berarti kami telah menerimanya," ujarnya.

Rezaei mengatakan AS tidak lagi memiliki pembenaran yang pernah digunakan untuk mempertahankan perannya di kawasan tersebut. Dia mengatakan Uni Soviet sudah tidak ada lagi.

"Amerika datang ke sini dan membawa kapal perangnya. Siapa musuhnya? Dulu, mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," ucapnya.

Rezaei menegaskan Selat Hormuz selalu terbuka untuk perdagangan. Dia menyebut Iran hanya menolak operasi militer asing, bukan pergerakan komersial.

"Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup untuk pengerahan kekuatan militer dan upaya-upaya apa pun untuk menggoyahkan keamanan," tegasnya.

Trump Desak Iran Setujui Kesepakatan

Di sisi lain, Trump kembali melontarkan ancaman pada Iran. Trump mengingatkan Iran bahwa 'tidak akan ada yang tersisa dari mereka' jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai dengan AS.

"Bagi Iran, Waktu Terus Berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya seperti dilansir Al Arabiya.

Menurut laporan media Axios yang mengutip dua pejabat AS, Trump dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan di Ruang Situasi, Gedung Putih, dengan tim keamanan nasional utamanya pada Selasa (19/5) waktu setempat. Pertemuan itu akan membahas opsi militer terhadap Iran.

Menurut laporan tersebut, Trump menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, penolakan Iran terhadap beberapa tuntutan AS dan penolakannya untuk membuat konsesi signifikan soal program nuklirnya telah menempatkan opsi militer kembali dipertimbangkan.

Mengutip seorang pejabat Israel, Axios juga melaporkan pada hari Minggu (17/5), bahwa Trump berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membahas Iran. Trump dan Netanyahu membahas kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran selama percakapan tersebut.

Sebelumnya pada hari Minggu, Netanyahu mengatakan bahwa dia dijadwalkan untuk berbicara dengan Trump pada hari itu juga. Netanyahu menambahkan dirinya akan mendengar tentang perjalanan Trump baru-baru ini ke China, sambil mengindikasikan bahwa kedua pemimpin tersebut juga akan membahas Iran.

Sementara itu, media yang terkait dengan pemerintah Iran mengatakan AS telah gagal membuat konsesi konkret apa pun dalam tanggapan terbarunya terhadap agenda yang diusulkan Iran untuk negosiasi guna mengakhiri perang.

Diketahui, AS telah menetapkan lima syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Syarat-syarat Washington itu mencakup pembatasan fasilitas nuklir Teheran dan pasokan uranium Iran diserahkan kepada AS.

Kantor berita Iran, Fars News Agency, melaporkan salah satu syarat yang ditetapkan Washington ialah menyatakan AS 'hanya mengizinkan satu fasilitas nuklir Iran untuk tetap beroperasi'.

Empat syarat Washington lainnya mencakup penolakan untuk membayar kompensasi atau ganti rugi apa pun terkait perang, menuntut transfer 400 kilogram uranium Iran ke AS, menahan pelepasan 25 persen aset Iran yang dibekukan di luar negeri, dan menjadikan penghentian perang di semua front sebagai hasil negosiasi.

Iran juga menetapkan lima syarat yang diajukan untuk perundingan damai dengan AS terpenuhi. Lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup mengakhiri perang di semua front terutama Lebanon, mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Lihat juga Video: Tuntutan Sederhana Iran untuk Mengakhiri Perang dengan AS

Halaman 4 dari 6
(haf/lir)


Berita Terkait