Macron Desak AS-Iran Berkoordinasi Buka Kembali Selat Hormuz

Macron Desak AS-Iran Berkoordinasi Buka Kembali Selat Hormuz

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 04 Mei 2026 16:49 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (dok. AFP/FABRICE COFFRINI)
Presiden Prancis Emmanuel Macron (dok. AFP/FABRICE COFFRINI)
Yerevan -

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara "terkoordinasi". Desakan ini dilontarkan Macron saat militer AS mengerahkan misi mengawal kapal-kapal keluar dari jalur perairan penting bagi pasokan minyak dan gas global tersebut.

"Yang paling kami inginkan adalah pembukaan kembali secara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Iran -- itulah satu-satunya solusi untuk membuka kembali Selat Hormuz," cetus Macron saat berbicara dalam pertemuan para pemimpin Eropa di Armenia, seperti dilansir AFP, Senin (4/5/2026).

"Kami tidak akan ikut serta dalam operasi militer apa pun dalam kerangka kerja yang menurut saya tidak jelas," ucapnya.

Prancis bersama Inggris telah memimpin upaya membentuk koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah perdamaian terjamin.

Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz sangat terganggu sejak perang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu.

Dalam pengumuman pada 2 Maret lalu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk lalu lintas maritim. Langkah itu membatasi aktivitas perlintasan di jalur perairan vital tersebut, yang mengguncang pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.

Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu menjadi salah satu fokus perselisihan terbaru antara Iran dan AS.

AS merespons dengan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dalam upaya menekan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Baru-baru ini, Presiden Donald Trump mengatakan AS akan mulai membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Trump setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di jalur air vital tersebut.

Belum jelas negara mana yang akan dibantu oleh operasi AS itu atau bagaimana operasi tersebut akan berjalan.

"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," kata Trump dalam sebuah unggahan di situs Truth Social miliknya pada hari Minggu (3/5).

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan akan mendukung upaya tersebut dengan 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta kapal perang dan drone.

Sementara itu, menurut Organisasi Maritim Internasional, ratusan kapal dan sebanyak 20.000 pelaut tidak dapat melewati Selat Hormuz selama perang AS-Israel melawan Iran.

Tonton juga video "Macron Kutuk Serangan yang Tewaskan Tentara Prancis di Lebanon, RI Ikut Berduka"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait