Kanselir Jerman Bilang Iran Mempermalukan AS, Trump Kesal!

Kanselir Jerman Bilang Iran Mempermalukan AS, Trump Kesal!

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 29 Apr 2026 13:58 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
Presiden AS Donald Trump (dok. Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merasa kesal dengan kritikan Kanselir Jerman Friedrich Merz soal strategi AS dalam perang melawan Iran. Trump mengecam Merz tidak memahami yang dia bicarakan, setelah Kanselir Jerman itu menyebut Teheran telah mempermalukan Washington.

Hal tersebut mengungkapkan ketegangan baru antara kedua negara sekutu yang terpecah-belah terkait Ukraina dan keamanan global.

Dalam pernyataan via Truth Social, seperti dilansir TRT World, Rabu (29/4/2026), Trump balik mengkritik tajam Merz, dengan menuduhnya mendukung ambisi nuklir Iran. Trump juga menuduh Merz semakin meningkatkan ketegangan antara AS dan Jerman.

"Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!" tulis Trump dalam postingannya.

"Jika Iran memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan menjadi sandera," tegasnya.

"Saya sedang melakukan sesuatu terhadap Iran, saat ini, yang seharusnya sudah dilakukan oleh negara-negara lainnya, atau presiden-presiden lainnya, sejak lama. Tidak heran Jerman begitu buruk, baik secara ekonomi maupun hal-hal lainnya," ucap Trump mengkritik Jerman, yang merupakan sekutu AS.

Kecaman Trump ini menyusul pernyataan Merz pada Senin (27/4) waktu setempat, ketika dia menyebut kepemimpinan Iran telah mempermalukan AS selama upaya diplomatik untuk mengakhiri perang.

Kanselir Jerman Pertanyakan Strategi AS Lawan Iran

Merz, dalam pernyataannya, menyebut Iran telah berulang kali menyeret pejabat-pejabat AS ke dalam perundingan yang tidak membuahkan hasil. Dia menggambarkan proses tersebut sebagai hal yang memalukan bagi Washington di mata publik.

Secara terang-terangan, Merz mempertanyakan strategi keluar (exit strategi) pemerintahan Trump dalam perang Iran. Kanselir Jerman ini mengatakan bahwa tidak jelas jalur mana yang ditempuh AS.

Kritikan blak-blakan dari Merz dan balasan tajam dari Trump ini menyoroti keretakan yang semakin besar antara Washington dan sekutu-sekutu NATO di Eropa. Perbedaan pendapat mengenai Iran dinilai semakin menambah ketegangan yang sudah ada terkait perang Ukraina, anggaran pertahanan, dan kebijakan keamanan yang lebih luas.

Cekcok publik ini menandai salah satu bentrokan transatlantik paling tajam dalam beberapa bulan terakhir, dengan Eropa semakin gelisah atas pengambilan keputusan AS dalam berbagai titik konflik global.

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait