Pemimpin Negara Teluk Kompak Tolak Pungutan Tarif di Selat Hormuz

Pemimpin Negara Teluk Kompak Tolak Pungutan Tarif di Selat Hormuz

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 29 Apr 2026 13:13 WIB
Sebuah kapal tanker, yang membawa muatan minyak mentah Arab Saudi, tiba di pelabuhan India usai melintasi Selat Hormuz (dok. REUTERS/Francis Mascarenhas)
Sebuah kapal tanker, yang membawa muatan minyak mentah Arab Saudi, tiba di pelabuhan India usai melintasi Selat Hormuz (dok. REUTERS/Francis Mascarenhas)
Jeddah -

Para pemimpin negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kompak menolak pungutan tarif apa pun terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. GCC menyerukan navigasi yang aman dan bebas di jalur perairan strategis tersebut.

Pelayaran melalui Selat Hormuz sangat terganggu sejak perang berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.

Langkah Teheran membatasi aktivitas perlintasan di jalur perairan vital tersebut telah mengguncang pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan kerusakan ekonomi yang berkepanjangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu menjadi salah satu fokus perselisihan terbaru antara Iran dan AS. Untuk merespons Teheran, militer Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

ADVERTISEMENT

Iran justru semakin memperketat cengkeramannya terhadap Selat Hormuz, dengan memerintahkan kapal-kapal untuk mengatur pembayaran di muka untuk tarif Selat Hormuz, dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan membayar dengan mata uang kripto atau mata uang China, Yuan.

Dalam pertemuan konsultatif di Jeddah, Arab Saudi, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (29/4/2026), para pemimpin negara anggota GCC menegaskan penolakan terhadap pungutan tarif di Selat Hormuz.

Para pemimpin negara Teluk, sebut Sekretaris Jenderal GCC Jasem Mohamed Albudaiwi, juga menolak penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Mereka menyebut langkah Teheran tersebut sebagai tindakan "ilegal".

Albudaiwi menambahkan bahwa pemimpin negara-negara Teluk memerintahkan langkah cepat untuk membangun jalur pipa minyak dan gas bersama, juga membangun sistem peringatan dini untuk menangkal rudal balistik di kawasan tersebut.

Penolakan GCC itu disampaikan setelah baru-baru ini, Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menerima pendapatan pertama dari pungutan tarif yang dikenakannya bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

"Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," kata Hajibabaei, seperti dikutip kantor berita Iran, Tasnim dan dilansir AFP. Dia tidak menyebut besaran jumlah "pendapatan" yang diterima Iran tersebut.

Media Iran lainnya juga menyampaikan pernyataan yang sama, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Simak juga Video 'AS Serang Eropa 'Omdo' soal Iran: Konferensi Konyol, Tak Ada Aksi Nyata':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini