Trump Bilang Iran Bisa Telepon AS Jika Ingin Negosiasi Setop Perang

Trump Bilang Iran Bisa Telepon AS Jika Ingin Negosiasi Setop Perang

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 27 Apr 2026 12:59 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Kenny Holston)
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Kenny Holston)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Iran dapat menelepon AS jika ingin melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang. Hal ini disampaikan saat AS dan Iran gagal melanjutkan perundingan damai di Pakistan pada akhir pekan.

Trump membatalkan kunjungan utusan khusus AS. Steve Witkoff, dan penasihat sekaligus menantunya, Jared Kushner, ke Pakistan pada Sabtu (25/4). Langkah itu dilakukan setelah Teheran menolak untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Washington, dan memilih untuk menyampaikan kekhawatiran mereka melalui Islamabad sebagai mediator.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan singkat ke Islamabad pada Sabtu (25/4), namun hanya untuk bertemu jajaran pejabat senior Pakistan, termasuk Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Situasi itu memupuskan harapan untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara AS dan Iran, setelah pertemuan awal di Islamabad pada pertengahan April lalu berakhir tanpa kesepakatan apa pun.

ADVERTISEMENT

Dalam wawancara dengan program Fox News "The Sunday Briefing", seperti dilansir Reuters dan Channel News Asia, Senin (27/4/2026), Trump mencetuskan bahwa Iran bisa menghubungi AS kapan pun jika ingin melanjutkan negosiasi.

"Jika mereka (Iran-red) ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman," kata Trump dalam wawancara tersebut.

"Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu," tegas Presiden AS itu dalam pernyataannya.

Ketika ditanya apakah pembatalan tersebut menandakan pertempuran akan kembali berlanjut, Trump menegaskan: "Tidak, itu tidak berarti demikian."

Iran sejak lama menuntut AS untuk mengakui hak negara itu dalam memperkaya uranium, yang menurut Teheran hanya akan dilakukan untuk tujuan damai. Namun negara-negara kekuatan Barat dan Israel menuduh Iran memiliki tujuan membangun senjata nuklir, yang telah berulang kali dibantah oleh Teheran.

Meskipun gencatan senjata sementara telah menghentikan pertempuran skala penuh yang diawali oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, sejauh ini belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai syarat-syarat untuk mengakhiri perang.

Teheran menutup sebagian besar Selat Hormuz, yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak global. Sedangkan Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Laporan terbaru media AS Axios, yang mengutip sumber-sumber pejabat AS, menyebut bahwa Iran telah menyerahkan proposal baru kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator.

Proposal baru Teheran itu disebut memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut oleh AS sebagai langkah awal, dengan negosiasi nuklir ditunda ke tahap selanjutnya. Proposal tersebut juga mengusulkan perpanjangan gencatan senjata untuk jangka waktu yang lebih lama.

Trump belum mengomentari laporan soal proposal baru Iran tersebut.

Simak juga Video 'AS-Iran Ketemu Lagi di Pakistan, Trump Utus Menantunya':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini