Otoritas Iran mengeksekusi mati seorang pria yang dinyatakan bersalah telah membantu pembakaran sebuah masjid besar di ibu kota Iran, Teheran. Pria itu juga dituduh berkolaborasi dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) selama unjuk rasa yang berlangsung sebelum perang berkecamuk.
Laporan situs web Mizan Online yang dikelola otoritas kehakiman Iran, seperti dilansir AFP, Selasa (21/4/2026), menyebut pria yang dieksekusi mati melalui hukuman gantung itu, memimpin jaringan badan intelijen Israel, Mossad, di salah satu area di Iran.
"Amir Ali Mirjafari... salah satu elemen bersenjata yang berkolaborasi dengan musuh yang mencoba untuk membakar Masjid Agung Gholhak dan merupakan pemimpin aktivitas antikeamanan jaringan Mossad di area tersebut, telah dihukum gantung pada pagi ini," demikian dilaporkan Mizan Online pada Selasa (21/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan Mizan Online, bahwa hukuman mati yang dijatuhkan kepada Mirjafari itu telah dikonfirmasi oleh Mahkamah Agung Iran sebelum dilaksanakan.
Baca juga: Iran Eksekusi Mati 2 Pria Terkait Mossad |
Hukuman mati itu, menurut Mizan Online, didasarkan pada tindakan Mirjafari atas nama "rezim Zionis, pemerintah AS yang bermusuhan, dan kelompok-kelompok yang bermusuhan terhadap keamanan negara dengan membakar Masjid Agung Gholhak dan fasilitas-fasilitas umum".
Mizan Online menyebut insiden itu terjadi selama unjuk rasa meletus di Iran pada akhir Desember tahun lalu, yang awalnya memprotes kenaikan biaya hidup sebelum berkembang menjadi unjuk rasa antipemerintah yang berlangsung secara nasional.
Eksekusi mati ini dilaksanakan saat Iran, dalam beberapa pekan terakhir, telah melakukan eksekusi mati terhadap orang-orang terkait unjuk rasa itu.
Teheran menuduh Israel, AS, atau kelompok oposisi, termasuk Organisasi Mujahidin Rakyat (MEK) yang dilarang, mendalangi unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan tersebut.
Sejak akhir Februari lalu, Iran berperang melawan AS dan Israel, yang diawali oleh serangan gabungan skala besar Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Pertempuran terhenti sementara sejak gencatan senjata selama dua minggu diberlakukan sejak diumumkan pada 7 April lalu.
Simak juga Video: Gedung Putih Sebut Iran Batalkan Rencana Eksekusi Mati 800 Pedemo











































