Hal itu disampaikan seorang juru bicara pemerintah Jerman, dilansir AFP, Selasa (14/4/2026). Desakan itu disampaikan Merz dalam percakan telepon dengan Netanyahu.
Merz juga menyatakan "keprihatinannya yang mendalam" tentang perkembangan di wilayah Palestina. Dia menuntut agar "tidak boleh ada aneksasi sebagian Tepi Barat secara de facto.
Juru bicara itu menyebut Merz menawarkan dukungan berkelanjutan Jerman untuk upaya "mencapai kesepahaman diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran" dalam perang yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) pada 28 Februari.
Merz awalnya menyambut baik serangan AS-Israel, tetapi telah beralih ke kekhawatiran karena potensi dampak ekonomi global menjadi lebih serius dan serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk mengancam akan mengubah konflik tersebut menjadi perang regional.
"Jerman siap berkontribusi untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, tetapi hanya setelah penghentian permusuhan dan dengan syarat kondisi yang diperlukan terpenuhi," kata juru bicara tersebut.
Pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur laut yang penting untuk sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum perang, sebagian besar telah dihentikan oleh ancaman Iran untuk menyerang kapal tanker.
Presiden AS Donald Trump telah mendeklarasikan blokade angkatan laut parsial di Selat Hormuz setelah negosiasi dengan Iran pada akhir pekan lalu gagal.
(fas/fas)











































