Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan menyerukan agar jalur perairan strategis Selat Hormuz dibuka kembali "segera mungkin". Seruan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz setelah perundingan dengan Iran gagal.
Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas global, terdampak oleh perang antara AS dan Israel melawan Iran yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu. Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu secara efektif dibatasi oleh Teheran selama perang berkecamuk.
Namun, Iran mengizinkan kapal-kapal tertentu yang dianggap terkait negara-negara sahabat, seperti China, untuk melintasi Selat Hormuz. Bahkan ada laporan yang belum dikonfirmasi soal Teheran berencana memungut tarif tol terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Situasi mengenai Selat Hormuz semakin memanas setelah Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz, karena marah dengan penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya, setelah perundingan damai yang digelar di Pakistan berujung gagal tanpa kesepakatan.
Fidan, saat berbicara kepada kantor berita Anadolu Agency, seperti dilansir AFP, Senin (13/4/2026), mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan menjadi bagian dari perang melawan Iran. Dia menyebut tidak ada negara yang menginginkan opsi terakhir.
"Negosiasi dengan Iran harus dilakukan, metode persuasi harus digunakan, dan selat harus dibuka sesegera mungkin," cetus Fidan dalam pernyataannya.
Dikatakan oleh Fidan bahwa Turki mendukung pembukaan kembali Selat Hormuz secara damai. Dia menyebut dunia menginginkan navigasi yang bebas dan tanpa gangguan melalui Selat Hormuz.
(nvc/ita)